KETIK, PROBOLINGGO – Masjid Tiban Babussalam di Kota Probolinggo dikenal luas sebagai masjid tua yang sarat cerita. Masjid ini kerap disebut sebagai masjid yang tiba-tiba berdiri. Hingga kini, kisah itu tetap hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari identitas kawasan sekitarnya.
Masjid ini berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur. Lokasinya berada di jalur utama Pantura yang ramai dilalui kendaraan antar kota dan antar provinsi. Meski berada di tepi jalan nasional yang padat, suasana di dalam masjid dikenal tenang.
Nama Babussalam sendiri.berarti pintu keselamatan dan keridhaan Allah Swt. Bagi warga, nama tersebut dimaknai sebagai harapan agar masjid menjadi tempat mencari ketenangan, baik bagi warga sekitar maupun para pendatang.
Sebutan ‘tiban’ muncul karena tidak adanya catatan tertulis tentang siapa pendiri dan kapan masjid ini pertama kali dibangun. Cerita yang berkembang, masjid ini seolah muncul dalam waktu singkat. Warga lalu menyebutnya sebagai masjid yang tiba-tiba ada.
Samsul Arifin, warga setempat, mengatakan cerita itu sudah ia dengar sejak kecil. “Orang tua saya bilang masjid ini sudah ada sejak dulu. Tidak tahu siapa yang bangun,” ujarnya, Minggu, 28 Desember 2025.
Pendapat serupa disampaikan Siti Rohmah. Menurutnya, cerita masjid tiban sudah menjadi bagian dari keseharian warga. “Kalau orang luar heran itu biasa. Kami sudah terbiasa dengar ceritanya,” katanya.
Sebagian warga mengaitkan masjid ini dengan Syekh Maulana Ishaq, tokoh penyebar Islam di Jawa Timur. Cerita itu berkembang dari tradisi lisan.
Di sekitar masjid juga terdapat sejumlah lokasi yang dipercaya sebagai petilasan. Ahmad Zaini, warga yang sering membantu kegiatan masjid, mengatakan cerita tersebut tidak pernah diklaim sebagai sejarah resmi.
“Kami hanya meneruskan cerita orang-orang dulu. Soal benar atau tidak, itu urusan masing-masing,” ujarnya.
Masjid Babussalam memiliki dua bagian bangunan. Bangunan lama berukuran sekitar 9 × 9 meter. Materialnya dari kayu jati dan batu padas, disusun tanpa paku besi, melainkan pasak kayu. Empat saka guru di bangunan lama dipercaya tidak pernah diganti sejak awal berdiri.
Sebagian warga memaknai setiap saka guru dengan simbol tertentu. Ada yang dipercaya memberi ketenangan batin, ada pula yang dimaknai sebagai penguat doa. Namun pemaknaan tersebut dikembalikan pada keyakinan pribadi masing-masing jamaah.
Bangunan baru masjid dibangun pada 1993 untuk menampung jamaah yang semakin banyak. Perluasan dilakukan tanpa menghilangkan bangunan lama. Sejak itu masjid ini dikenal sebagai Masjid Jami’ Tiban Babussalam.
H. Mukhlis, tokoh masyarakat setempat, mengatakan bagian lama tetap dipertahankan. “Yang lama tidak diubah. Itu bagian sejarah menurut warga,” katanya.
Di sekitar masjid terdapat sejumlah elemen yang juga menjadi perhatian pengunjung. Salah satunya sumur tua di area masjid. Air sumur ini sering dikaitkan dengan cerita kesembuhan dan ketenangan batin. Warga menegaskan, keyakinan tersebut bukan bagian dari ajaran ibadah, melainkan tradisi lokal.
Nur Aini, warga sekitar, mengatakan banyak pengunjung datang dengan berbagai niat. “Ada yang shalat, ada yang duduk lama, ada juga yang minum air sumur,” ujarnya.
Di sisi selatan kompleks masjid terdapat sebuah batu andesit berukuran sekitar satu meter panjangnya. Batu ini dikenal warga sebagai batu panjang. Batu tersebut berada di area makam kuno dan hampir setiap hari didatangi orang.
Sebagian masyarakat percaya batu panjang dapat menjadi sarana ikhtiar untuk mengatasi stres berat, depresi, hingga gangguan kejiwaan. Ada yang datang untuk duduk, berzikir, atau berwiritan dalam waktu lama. Kepercayaan ini berkembang secara turun-temurun.
Warga setempat menegaskan, praktik tersebut adalah pilihan pribadi. Tidak ada pengelolaan resmi atau anjuran dari pihak masjid terkait ritual tertentu di batu panjang.
Masjid Tiban Babussalam, juga kerap dikunjungi pejabat. Kedatangan mereka umumnya bersifat pribadi dan tidak dalam agenda kedinasan. Warga melihat pejabat datang tanpa pengawalan berlebihan.
H. Mukhlis, mengatakan pejabat yang datang biasanya ingin menenangkan diri. “Mereka datang seperti jamaah biasa. Shalat, duduk sebentar, lalu pulang,” katanya. Bagi warga, tidak ada perbedaan perlakuan. “Di sini semua sama,” kata Samsul Arifin.
Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi persinggahan musafir yang melintas di jalur Pantura. Pada bulan Ramadhan dan hari besar Islam, masjid menjadi lebih ramai. Warga sekitar aktif menjaga kebersihan dan kegiatan keagamaan.
Sebagian cerita tentang masjid ini juga berkembang melalui tokoh-tokoh spiritual setempat. Salah satunya Kamaludin, warga Probolinggo, yang dikenal membantu orang-orang yang mengalami gangguan batin. Ia menggunakan air sumur masjid sebagai sarana doa dan ikhtiar.
Kamaludin menegaskan, kesembuhan bukan berasal dari air atau tempat tertentu. “Semua dari Allah. Saya hanya membantu dengan doa,” ujarnya kepada warga yang datang.
Ia mengaku kebiasaannya bermula dari seringnya beritikaf di Masjid Babussalam, selama bertahun-tahun.
Awalnya ia datang untuk mencari ketenangan hidup. Seiring waktu, banyak orang datang meminta doa dan pendampingan spiritual.
Hingga kini, Masjid Tiban Babussalam, tetap berdiri sebagai ruang ibadah, ruang sunyi, dan ruang harapan bagi banyak orang. Sebagian kisahnya berada di wilayah sejarah, sebagian lain hidup sebagai kepercayaan lokal.
Namun bagi warga sekitar, masjid ini adalah bagian dari kehidupan mereka, dijaga, dirawat, dan dimaknai sesuai keyakinan masing-masing.(*)
