Air bersih jelas kebutuhan paling dasar dalam kehidupan. Setiap rumah membutuhkannya. Setiap keluarga bergantung padanya. Karena itu, urusan ketersediaan air tidak bisa dianggap layanan biasa. Kebutuhan air adalah hak dan tanggung jawab pemerintah. Di Kota Probolinggo, tanggung jawab ini dijalankan oleh Perumdam Bayuangga. Perusahaan milik daerah bertugas mengelola dan menyalurkan air bersih.
Perumdam Bayuangga, bukan lembaga yang lahir kemarin. Pengelolaan air di Probolinggo, telah dimulai sejak tahun 1928. Artinya, urusan air di kota ini telah melewati banyak zaman. Juga banyak tantangan. Dari masa kolonial, masa awal kemerdekaan, hingga era otonomi daerah.
Perubahan nama dari PDAM menjadi Perumdam bukan sekadar pergantian istilah. Tetapi penanda perubahan cara pandang. Dari sekadar pengelola teknis menjadi perusahaan pelayanan publik yang dituntut profesional, terbuka, dan berorientasi pada kepentingan warga.
Arah perubahan itu terlihat dari visi diusung Perumdam Bayuangga. Yakni menjadi perusahaan air minum yang humanis, amanah, akuntabel, inovatif, berbasis digital, dan berkelanjutan. Visi ini menunjukkan kesadaran jika pelayanan air tidak cukup hanya mengalirkan air. Tetapi juga membangun kepercayaan publik.
Saat ini, Perumdam Bayuangga, dipimpin Indra Sovia Jalal, sebagai direktur. Di bawah kepemimpinan ini, Perumdam, mulai menunjukkan pembenahan lebih terarah. Tantangan pengelolaan air memang tidak ringan. Tetapi sejumlah langkah perbaikan terus dilakukan secara bertahap.
Secara alam, Probolinggo, memiliki potensi sumber air yang cukup besar. Mata air Ronggojalu, selama ini menjadi salah satu andalan utama. Potensi ini merupakan modal penting bagi Perumdam untuk meningkatkan pelayanan. Dengan sumber air yang relatif memadai, Perumdam memiliki peluang besar memperluas cakupan layanan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penulis mencatat perkembangan signifikan. Jumlah sambungan rumah terus bertambah. Pada tahun 2023 tercatat 20.754 sambungan rumah dan meningkat menjadi 20.843 sambungan pada tahun 2025.
Cakupan layanan juga bergerak naik hingga mendekati 40 persen. Angka ini memang belum ideal. Tetapi menunjukkan adanya arah perbaikan nyata. Perumdam juga berhasil menekan tingkat kehilangan air atau kebocoran jaringan. Tingkat kehilangan air sebelumnya berada di atas 42 persen lalu ditekan menjadi sekitar 37 persen.
Penurunan ini bukan perkara mudah, karena menyangkut perbaikan pipa lama, pengawasan distribusi, dan kerja teknis di lapangan. Bagi warga, pengurangan kebocoran berarti aliran lebih stabil dan efisiensi lebih baik. Dari sisi kualitas, Perumdam menyatakan air didistribusikan memenuhi standar kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengujian dilakukan secara rutin untuk memastikan air aman dikonsumsi. Ini adalah aspek penting, karena air bersih bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal kesehatan masyarakat. Upaya pembenahan ini juga mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Pada ajang TOP BUMD Awards 2025, Perumdam Bayuangga, meraih penghargaan sebagai TOP Perumda Bintang 4. Selain itu, pimpinan Perumdam juga menerima penghargaan TOP CEO, serta pemerintah daerah mendapatkan pengakuan sebagai TOP Pembina BUMD. Penghargaan ini menempatkan Perumdam Bayuangga, sebagai salah satu dari ratusan BUMD terbaik di Indonesia.
Prestasi ini penting dicatat. Bukan untuk berpuas diri, tetapi sebagai bukti Perumdam Bayuangga, tidak jalan di tempat. Ada kerja nyata yang dilakukan. Ada proses sedang dibangun. Ada arah yang mulai terlihat. Namun, penghargaan dan angka capaian bukanlah tujuan akhir.
Bagi warga, ukuran keberhasilan tetap sederhana. Apakah air mengalir lancar? Apakah gangguan cepat ditangani? Apakah keluhan ditanggapi dengan baik? Di sinilah evaluasi publik tetap relevan. Visi humanis, misalnya, akan selalu diuji saat terjadi gangguan layanan. Humanis bukan berarti tanpa masalah, tetapi bagaimana Perumdam bersikap ketika masalah muncul.
Pemberitahuan yang jelas, jujur, dan respons yang cepat jauh lebih berarti bagi warga daripada janji muluk-muluk. Begitu pula dengan visi amanah dan akuntabel. Bagi masyarakat, akuntabilitas terlihat dari kejelasan tagihan dan keterbukaan informasi. Ketika Perumdam berani menjelaskan kondisi apa adanya, kepercayaan justru akan tumbuh. Transparansi adalah bagian dari promosi terbaik yang bisa dilakukan perusahaan pelayanan publik.
Misi transformasi digital juga mulai terlihat manfaatnya. Digitalisasi diarahkan untuk memperbaiki sistem pencatatan, pengelolaan data, dan pelayanan pelanggan. Tujuannya sederhana, memudahkan masyarakat dan mempercepat respons. Tantangannya adalah memastikan sistem ini benar-benar ramah bagi warga, bukan hanya rapi secara administrasi.
Misi memperluas jaringan distribusi pun terus menjadi pekerjaan rumah. Selama masih ada wilayah yang belum terlayani secara optimal, Perumdam masih harus bekerja keras. Namun dengan tren peningkatan sambungan rumah dan penurunan kebocoran, ada alasan untuk percaya bahwa arah perbaikan sudah berjalan.
Ke depan, tantangan akan semakin besar. Perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan pertumbuhan penduduk akan memengaruhi ketersediaan air. Karena itu, kata “berkelanjutan” dalam visi Perumdam harus benar-benar diterjemahkan ke dalam perencanaan jangka panjang, bukan sekadar jargon.
Artikel ini pada dasarnya ingin menyampaikan dua hal sekaligus. Pertama, Perumdam Bayuangga, layak diapresiasi atas upaya dan prestasi yang dicapai. Kedua, evaluasi publik tetap diperlukan agar capaian itu tidak berhenti, tetapi terus berlanjut dan meningkat.
Promosi terbaik bagi Perumdam bukanlah iklan atau slogan, melainkan pengalaman warga. Ketika air mengalir lancar, keluhan ditangani cepat, dan masyarakat merasa diperhatikan, di situlah citra perusahaan terbentuk dengan sendirinya.
Air bersih adalah urusan hidup. Dan Perumdam Bayuangga, memegang amanah besar dalam urusan itu. Dengan visi yang jelas, kinerja yang mulai terlihat, serta komitmen untuk terus berbenah, Perumdam Bayuangga, memiliki peluang besar untuk menjadi perusahaan daerah yang benar-benar dibanggakan warga Kota Probolinggo.*
Oleh Eko Hardianto (Wartawan ketik.com dan Wakil Ketua PWI Probolinggo Raya)
