Masjid Tiban Turen, Perpaduan Arsitektur Timur Tengah dan Kisah Mistis di Kabupaten Malang

12 Februari 2026 18:44 12 Feb 2026 18:44

Thumbnail Masjid Tiban Turen, Perpaduan Arsitektur Timur Tengah dan Kisah Mistis di Kabupaten Malang

Masjid Tiban, masjid berasitektur Timur Tengah di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, yang disebut dibangun dengan bantuan jin. (Foto: Pinterest Azhar Masood)

KETIK, MALANG – Masjid Tiban Turen menjadi salah satu destinasi wisata religi yang unik di Kabupaten Malang. Bangunan megah dengan arsitektur bergaya Timur Tengah ini berdiri di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, dan kerap menarik perhatian wisatawan karena desainnya yang detail serta kisah mistis yang menyelimutinya.

Masjid ini merupakan bagian dari Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh. Pondok pesantren tersebut lebih dahulu berdiri pada tahun 1963 atas prakarsa Romo Kiai Ahmad, yang memilih kawasan Turen berdasarkan hasil salat istikharah.

Pembangunan Masjid Tiban sendiri dimulai secara bertahap pada tahun 1987 dan berlangsung hingga 1992. Meski demikian, kompleks pesantren telah ada sejak 1978 dan terus berkembang hingga menjadi bangunan megah seperti sekarang.

Secara arsitektur, Masjid Tiban memadukan gaya Timur Tengah dengan ornamen khas Turki, India, dan Mesir. Menara masjid yang menjulang tinggi menjadi salah satu ciri khasnya. Bangunan ini terdiri dari 10 lantai, dengan fungsi yang berbeda di setiap tingkatnya.

Lantai pertama difungsikan sebagai area istirahat dan tempat salat. Lantai kedua terdapat loket, area makan, dapur, serta ruang istirahat. Lantai ketiga digunakan sebagai musala tambahan yang dilengkapi akuarium dan kebun binatang mini.

Sementara itu, lantai empat menjadi tempat tinggal keluarga pengelola pondok. Lantai enam dimanfaatkan sebagai area istirahat santri. Di lantai tujuh dan delapan, pengunjung dapat menemukan toko oleh-oleh dan suvenir. Adapun lantai sembilan dan sepuluh dirancang menyerupai kemiringan gunung dan gua yang diibaratkan sebagai puncak gunung.

Nama “Tiban” sendiri berarti “muncul tiba-tiba”. Sebutan ini berawal dari mitos yang berkembang di masyarakat bahwa masjid tersebut dibangun oleh jin dalam semalam. Cerita itu muncul karena proses pembangunan sering dilakukan pada malam hari oleh para santri dan warga sekitar, sehingga banyak orang tidak menyaksikan langsung proses pengerjaannya.

Terlepas dari kisah mistis tersebut, Masjid Tiban kini dikenal sebagai destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi, tidak hanya oleh masyarakat lokal tetapi juga wisatawan mancanegara. Keindahan arsitektur, nilai sejarah, dan suasana spiritual menjadi daya tarik utama tempat ini.

Masjid Tiban Turen buka selama 24 jam setiap hari dan tidak memungut biaya masuk. Pengunjung hanya diimbau memberikan sumbangan sukarela untuk perawatan masjid. Karena berada di lingkungan pondok pesantren, wisatawan juga diharapkan mengenakan pakaian sopan serta menjaga ketertiban selama berada di area masjid.

Masjid Tiban Turen bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga simbol perpaduan antara seni arsitektur, nilai religius, dan cerita budaya yang hidup di tengah masyarakat Malang Selatan.

Tombol Google News

Tags:

Masjid Tiban Turen masjid tiban Masjid Tiban Jin

Berita Lainnya oleh Suci