KETIK, JAKARTA – Kim Jong Un, pemimpin Korea Utara kembali menyita perhatian terkait gaya kepemimpinannya. Baru-baru ini, generasi ketiga pemimpin Korut itu dilaporkan memecat Wakil Perdana Menteri, Yang Sung-ho.
Yang membedakan, Kim Jong Un mengumumkan pemecatan itu secara spontan di depan khalayak saat sedang berpidato. Hal itu dilakukan saat Kim melakukan kunjungan kerja ke Kompleks Mesin Ryongsong, sebuah fasilitas industri yang memiliki peran penting dalam program modernisasi ekonomi Korea Utara.
Dikutip dari siaran kantor berita resmi pemerintah Korut -Korean Central News Agency (KCNA)- kunjungan tersebut awalnya dimaksudkan untuk meninjau hasil pembangunan tahap pertama proyek modernisasi. Dalam kesempatan itu, Kim Jong Un menyampaikan kritik keras terhadap pelaksanaan proyek dan secara langsung mengumumkan pencopotan Yang Sung-ho dari jabatannya. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh Korean Central News Agency sebagai bagian dari rangkaian kegiatan inspeksi lapangan pemimpin Korea Utara.
Menurut laporan KCNA, Kim Jong Un menilai bahwa proyek modernisasi di kompleks tersebut mengalami banyak masalah serius. Ia menyebut adanya puluhan kekurangan dalam perencanaan dan pelaksanaan, termasuk kegagalan memenuhi target produksi dan pemborosan sumber daya. Kritik itu diarahkan pada kepemimpinan Yang Sung-ho yang saat itu bertanggung jawab atas sektor industri mesin. Dalam pidatonya, Kim menyampaikan bahwa penugasan Yang pada proyek tersebut tidak menghasilkan kemajuan sebagaimana yang diharapkan oleh partai dan negara.
Pemecatan Yang Sung-ho dilakukan di hadapan para pejabat partai, manajer pabrik, dan pekerja yang hadir di lokasi. Tidak ada indikasi dalam laporan resmi bahwa pemecatan tersebut disertai penahanan atau proses hukum lanjutan. KCNA menyebut bahwa keputusan itu diambil sebagai langkah organisasi setelah evaluasi atas kinerja proyek, tanpa menggunakan tuduhan ideologis atau politik terhadap Yang Sung-ho.
Dalam praktik pemerintahan Korea Utara, pergantian pejabat tinggi umumnya tidak diumumkan secara terbuka. Pejabat yang dicopot biasanya berhenti disebutkan dalam laporan media negara atau digantikan secara administratif tanpa penjelasan rinci. Namun, dalam kasus ini, KCNA melaporkan secara jelas bahwa Yang Sung-ho dicopot dari jabatannya di lokasi proyek, dan alasan pencopotan dikaitkan langsung dengan hasil kerja yang dinilai tidak memuaskan.
Kasus ini juga berbeda dari pembersihan politik yang pernah terjadi sebelumnya, di mana pejabat tinggi dijatuhkan dengan tuduhan pengkhianatan, faksionalisme, atau sikap anti-partai. Dalam laporan KCNA mengenai Yang Sung-ho, fokus pemberitaan berada pada masalah teknis, manajerial, dan tanggung jawab kerja. Tidak terdapat penyebutan bahwa Yang dianggap melanggar garis ideologi partai atau menunjukkan ketidaksetiaan terhadap kepemimpinan.
Pemecatan tersebut terjadi menjelang penyelenggaraan kongres besar Partai Buruh Korea, sebuah agenda politik penting yang biasanya diiringi dengan evaluasi kebijakan dan penyesuaian struktur kepemimpinan. Hingga laporan terakhir KCNA, belum diumumkan siapa yang akan menggantikan Yang Sung-ho sebagai Wakil Perdana Menteri atau pejabat yang akan mengambil alih tanggung jawab atas sektor industri mesin.
KCNA menempatkan peristiwa pemecatan ini dalam rangkaian laporan inspeksi Kim Jong Un ke berbagai lokasi ekonomi, yang kerap disertai arahan langsung, kritik, dan instruksi kebijakan. Laporan tersebut mencatat bahwa Kim Jong Un menekankan pentingnya disiplin kerja, perencanaan yang tepat, dan pelaksanaan proyek sesuai keputusan partai, khususnya dalam sektor industri yang dianggap strategis bagi perekonomian negara.
