KETIK, JAKARTA – Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf tiba-tiba mencuat di tengah memanasnya konflik geopolitik Iran dengan Amerika Serikat. Ketua parlemen Iran itu kini menjadi sorotan setelah muncul spekulasi bahwa ia dilihat oleh sebagian kalangan di Washington sebagai sosok yang berpotensi menjadi mitra—bahkan kandidat pemimpin baru Iran.
Namun, di balik wacana tersebut, rekam jejak Ghalibaf menunjukkan profil yang jauh dari gambaran “figur kompromi”.
Sama seperti kebanyakan elite Iran lainnya, Ghalibaf punya rekam jejak sebagai sosok yang radikal atau ekstrem menunjukkan perlawanan kepada Barat khususnya Amerika Serikat.
Dikutip dari Suara.com -jejaring media Ketik.com- Ghalibaf bukan sosok baru dalam struktur kekuasaan Iran. Ia lahir pada 1961 dan meniti karier dari dunia militer, khususnya melalui Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Saat perang Iran–Irak, ia pernah memimpin unit tempur dan terlibat dalam sejumlah operasi militer besar. Kariernya terus menanjak, termasuk ketika dipercaya memimpin angkatan udara IRGC hingga kemudian menjabat Kepala Kepolisian Iran pada awal 2000-an.
Tak berhenti di sana, Ghalibaf juga sempat menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama lebih dari satu dekade sebelum akhirnya menduduki kursi Ketua Parlemen sejak 2020.
Figur Keras dengan Kontroversi Panjang
Ghalibaf menjadi Ketua Parlemen Iran sejak 2020, menggantikan Ali Larijani, sosok yang disebut-sebut sebagai pemimpin de facto Iran pasca syahidnya Ali Khomeini akibat serangan Israel-AS pada 28 Februari 2026 lalu. Ali Larijani juga gugur akibat serangan Israel pada 17 Maret 2026.
Di dalam negeri, Ghalibaf dikenal sebagai figur garis keras. Ia kerap dikaitkan dengan kebijakan represif terhadap demonstrasi publik, termasuk penanganan aksi protes mahasiswa dan gerakan oposisi.
Sejumlah laporan juga menyebut namanya berulang kali terseret isu dugaan korupsi, meskipun tidak pernah berujung pada proses hukum yang tuntas.
Citra ini membuatnya lebih dikenal sebagai “strongman” dibanding diplomat, sebuah karakter yang justru dinilai sebagian analis cocok dengan preferensi politik Presiden AS Donald Trump.
Disebut-sebut Jadi “Opsi” Washington
Dalam dinamika terbaru, sejumlah laporan menyebut bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan Ghalibaf sebagai sosok yang bisa diajak bernegosiasi di tengah konflik yang terus meningkat.
Spekulasi ini muncul di tengah kekosongan dan ketidakpastian kepemimpinan di Iran akibat konflik yang menewaskan sejumlah tokoh penting.
Meski demikian, asumsi tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas politik Iran. Sistem pemerintahan Iran menempatkan pemimpin tertinggi sebagai pengambil keputusan utama, sehingga posisi Ghalibaf dinilai tetap memiliki keterbatasan dalam menentukan arah kebijakan strategis negara.
Retorika Anti-Barat yang Konsisten
Alih-alih menunjukkan sinyal kompromi, Ghalibaf justru dikenal dengan retorika keras terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam berbagai pernyataan, ia menegaskan bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah menjadi sumber utama ketidakstabilan kawasan. Ia bahkan memperingatkan bahwa kepentingan Amerika di wilayah tersebut dapat menjadi target jika konflik terus berlanjut.
Sikap ini mempertegas bahwa meski namanya dikaitkan dengan skenario negosiasi, Ghalibaf tetap berada dalam garis ideologi keras yang sejalan dengan elite militer Iran.
Munculnya nama Ghalibaf dalam kalkulasi politik Washington mencerminkan dinamika baru dalam konflik Iran–AS. Namun, banyak pengamat menilai anggapan bahwa ia bisa menjadi “pemimpin kompromi” atau bahkan “figur boneka” terlalu menyederhanakan kompleksitas politik Iran.
Dengan latar belakang militer kuat, jaringan kekuasaan yang luas, serta rekam jejak kontroversial, Ghalibaf lebih tepat dipandang sebagai bagian dari inti kekuatan sistem Iran—bukan sosok yang mudah diarahkan dari luar.
Di tengah situasi yang masih cair, satu hal yang jelas: siapa pun yang muncul sebagai figur kunci di Iran ke depan akan tetap berada dalam bayang-bayang struktur kekuasaan yang jauh lebih besar daripada sekadar satu individu.
Kini dunia akan menanti, benarkah Ghalibaf akan menjadi sosok pengganti kepemimpinan Iran yang disenangi AS seperti klaim Trump, atau justru sesuai dengan klaim Ghalibaf sendiri bahwa ia tetap konsisten anti kompromi dengan negeri Paman Sam.
