KETIK, YOGYAKARTA – Perambahan hutan secara masif selama puluhan tahun terakhir telah membuat sejumlah spesies satwa kehilangan habitat alaminya, bahkan sebagian telah punah dan lainnya berada di ambang kepunahan di Pulau Jawa. Salah satu satwa yang kini berada dalam kondisi kritis tersebut adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), burung pemangsa endemik yang menjadi simbol keseimbangan ekosistem hutan Jawa.
Populasi Elang Jawa saat ini berstatus hampir punah. Berdasarkan data konservasi, jumlahnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 511 pasang atau kurang lebih 1.000 individu yang tersebar di 74 kawasan hutan di Pulau Jawa. Kondisi ini mendorong berbagai pihak untuk memperkuat upaya konservasi demi menjaga keberlanjutan kehidupan alam dan mencegah hilangnya salah satu spesies kunci di ekosistem hutan.
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada sekaligus pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha, menjelaskan bahwa penyusutan populasi Elang Jawa dipicu oleh berbagai faktor, dengan hilangnya habitat sebagai penyebab utama. Menurutnya, Elang Jawa memiliki kebutuhan habitat yang sangat spesifik dan tidak semua wilayah pegunungan atau perbukitan di Jawa mampu memenuhi syarat tersebut.
Habitat ideal Elang Jawa harus berupa hutan hujan tropis dengan tingkat heterogenitas tinggi serta keberadaan pohon-pohon menjulang atau emergent tree. Selain itu, kawasan tersebut harus memiliki ketersediaan mangsa yang cukup, seperti tikus, tupai, bajing, ayam hutan, serta berada di wilayah pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan lahan yang curam.
“Area hutan memiliki potensi mangsa yang cukup seperti tikus, tupai, bajing, ayam hutan dan sebagainya, dan area hutan berada di pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan lahan yang curam,” ujar Donan dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 19 Januari 2026.
Namun, Donan menilai habitat-habitat tersebut kini semakin tergerus oleh aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan hingga alih fungsi hutan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran untuk berbagi ruang hidup antara manusia dan satwa liar.
“Semua makhluk hidup termasuk Elang Jawa adalah ciptaan Tuhan dan mereka berhak untuk tinggal di Bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan,” tegasnya.
Ancaman kepunahan Elang Jawa tidak hanya berdampak pada satu spesies, tetapi juga berpotensi merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Donan menjelaskan, sebagai predator puncak, Elang Jawa berperan penting dalam mengontrol populasi mangsanya, seperti bajing dan jelarang hitam, yang memakan buah dan biji-bijian di hutan.
“Jika Elang Jawa punah maka bajing dan jelarang populasinya akan meledak karena tidak lagi dikontrol oleh pemangsanya. Akibatnya, tumbuhan berbuah dan berbiji di hutan akan habis sebelum sempat beregenerasi,” jelasnya.
Kondisi tersebut akan memicu tekanan besar terhadap regenerasi tumbuhan hutan. Selain itu, overpopulasi bajing dan jelarang juga dapat menimbulkan persaingan dengan satwa pemakan buah dan biji lainnya, seperti burung, yang pada akhirnya dapat menghilang dari habitat tersebut.
“Daya dukung tumbuhan hutan terbatas. Karena itu, populasi hewan harus terkontrol. Inilah contoh nyata bagaimana keanekaragaman dan keseimbangan ekosistem bisa terganggu,” terangnya.
Donan menegaskan bahwa keberadaan Elang Jawa menjadi indikator kesehatan ekosistem. Selama predator puncak tersebut masih hidup dan berfungsi di alam, populasi hewan lain seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, dan ular akan tetap terjaga dalam batas wajar.
“Ketika kita menyelamatkan Elang Jawa, maka secara otomatis kita juga melindungi hewan dan tumbuhan lain di dalam kawasan tersebut,” ujarnya.
Untuk mencegah kepunahan, Donan menilai perlunya perlindungan ketat terhadap habitat Elang Jawa, khususnya area bersarang, wilayah jelajah, dan lokasi berburu. Pemerintah didorong untuk memperluas kawasan konservasi yang sudah ada atau menetapkan kawasan perlindungan baru, baik dalam bentuk taman nasional maupun cagar alam.
Selain kebijakan pemerintah, upaya konservasi juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, hingga masyarakat lokal. Menurut Donan, peran masyarakat sangat krusial karena berada di garis terdepan dalam menjaga habitat satwa liar.
“Larangan berburu harus ditegakkan dengan sanksi yang jelas dan tegas, disertai sosialisasi, rehabilitasi, serta pelepasliaran Elang Jawa,” pungkasnya
