KETIK, YOGYAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menjalin kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Salah satunya adalah Indonesia akan membuka keran sebesar-besarnya bagi perusahaan AS untuk berinvestasi di sektor pengembangan mineral kritikal, salah satunya di bidang logam tanah jarang (LTJ).
Kesepakatan itu dijalin di sela-sela kehadiran Presiden Prabowo Subianto dan rombongan dalam KTT untuk membahas Board of Peace (BoP), Jumat, 20 Februari 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan sejumlah negara industri maju terhadap logam tanah jarang memang terus meningkat. Hal ini seiring dengan pengembangan teknologi energi terbarukan seperti motor listrik dan sebagainya.
Penelitian logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu dekade. Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi salah satu pihak yang berkontribusi sejak tahap awal eksplorasi.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., mengungkapkan bahwa riset LTJ sudah dimulai sejak 2008 melalui kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai Japan International Cooperation Agency (JICA).
“Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ungkap Lucas, seperti dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu, 21 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa potensi logam tanah jarang Indonesia cukup besar, tetapi masih berada pada tahap eksplorasi dan pengujian keekonomian. Indonesia bahkan belum memiliki izin usaha pertambangan khusus untuk komoditas ini.
Lucas menilai penting membedakan antara potensi geologi dan realitas produksi. Berbeda dengan emas dan tembaga yang telah diproduksi masif, logam tanah jarang masih membutuhkan tahapan riset mendalam sebelum masuk fase komersial.
Salah satu temuan penting muncul di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Kawasan ini awalnya diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN, sebelum kemudian diketahui memiliki kandungan logam tanah jarang tinggi.
“Awalnya daerah ini diteliti karena anomali radioaktif oleh BATAN. Dalam perjalanannya, diketahui bahwa kandungan logam tanah jarangnya tinggi di Indonesia,” jelasnya.
UGM memiliki rekam jejak kuat di kawasan tersebut. Peneliti yang pertama kali mengungkap potensi Mamuju merupakan alumni Departemen Teknik Geologi UGM yang menyelesaikan studi magister dan doktoralnya dengan fokus pada wilayah itu.
Meski potensi sumber daya terus ditemukan, Lucas menekankan bahwa tantangan utama terletak pada teknologi pengolahan.
“Logam tanah jarang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda di setiap lokasi sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik,” ujarnya.
Karakteristik mineral yang kompleks membuat proses ekstraksi memerlukan teknologi tinggi dan investasi besar. Setiap lokasi memiliki komposisi berbeda sehingga metode pengolahannya tidak bisa diseragamkan.
Selain Bangka Belitung, kawasan Kalimantan dan Sulawesi kini juga menunjukkan prospek baru. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kelayakan ekonomi cadangan tersebut.
Lucas menegaskan bahwa pengembangan logam tanah jarang memerlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri agar Indonesia tidak hanya menjadi pemilik cadangan, tetapi juga mampu menguasai teknologi pengolahan.
“UGM patut bangga karena ikut berkontribusi sejak tahap awal. Ke depan, mudah-mudahan Indonesia benar-benar mampu mengolah logam tanah jarang,” pungkasnya.
