KETIK, LEBAK – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak mencatat telah melayani 7.715 pencari kerja melalui penerbitan Kartu Pencari Kerja (AK-1) sepanjang tahun 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pencari kerja berasal dari kelompok usia produktif dengan latar belakang pendidikan menengah.
Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lebak, Rully Chaerullyanto, mengatakan bahwa pelayanan AK-1 menjadi salah satu indikator penting dalam memetakan kondisi ketenagakerjaan di daerah, khususnya dalam melihat profil pencari kerja berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.
“Data pelayanan AK-1 tahun 2025 menunjukkan bahwa pencari kerja di Kabupaten Lebak masih didominasi oleh lulusan SMA dan SMK. Ini menjadi perhatian bersama untuk terus memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja,” ujar Rully Chaerullyanto, ketika diwawancarai oleh ketik.com di ruang kerjanya, Jumat, 23 Januari 2026.
Berdasar data Disnaker Lebak, dari total 7.715 pencari kerja, lulusan SMA mencapai 3.297 orang atau sekitar 42,73 persen, disusul lulusan SMK sebanyak 3.190 orang atau 41,35 persen.
Sementara itu, pencari kerja lulusan perguruan tinggi relatif lebih sedikit, yakni lulusan S1 sebanyak 600 orang, Diploma III 102 orang, S2 tiga orang, dan S3 satu orang.
Selain itu, pencari kerja lulusan SMP tercatat 434 orang, dan lulusan SD sebanyak 88 orang.
Dari sisi jenis kelamin, pencari kerja laki-laki masih mendominasi dengan jumlah 4.336 orang atau 56,14 persen, sedangkan pencari kerja perempuan sebanyak 3.379 orang atau 43,86 persen.
“Partisipasi pencari kerja perempuan cukup besar dan menunjukkan bahwa kesempatan serta minat kerja perempuan di Kabupaten Lebak terus meningkat,” kata Rully.
Sementara itu, berdasarkan kelompok usia, pencari kerja didominasi oleh usia muda dan produktif, terutama rentang 15–24 tahun. Kondisi ini mencerminkan besarnya jumlah lulusan baru yang memasuki pasar kerja setiap tahunnya.
Dari sisi waktu pelayanan, Disnaker Lebak mencatat bulan Oktober 2025 sebagai periode dengan jumlah penerbitan AK-1 tertinggi, yakni mencapai 1.670 pencari kerja, sedangkan bulan Maret menjadi yang terendah dengan 75 pencari kerja.
Rully menjelaskan, fluktuasi jumlah pelayanan AK-1 dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti masa kelulusan sekolah, rekrutmen perusahaan, serta kebutuhan administrasi pencari kerja.
“Lonjakan pada bulan-bulan tertentu biasanya berkaitan dengan momen kelulusan sekolah maupun pembukaan rekrutmen tenaga kerja oleh perusahaan,” jelasnya.
Ia menegaskan, data ini akan menjadi bahan evaluasi dan dasar perumusan kebijakan ketenagakerjaan, termasuk penguatan pelatihan vokasi, peningkatan kompetensi pencari kerja, serta memperluas kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.
“Harapannya, pencari kerja di Kabupaten Lebak tidak hanya terlayani secara administrasi, tetapi juga memiliki daya saing dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” pungkas Rully. (*)
