Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

10 Maret 2026 05:25 10 Mar 2026 05:25

Thumbnail Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

Visual sampul album Diskoria yang berjudul INTONESIA (Foto: Spotify/Diskoria)

KETIK, SURABAYA – Pernah tidak sih kamu merasa lelah saat menggulir linimasa media sosial yang isinya cuma ajang pamer pencapaian orang lain tren joget harian atau perdebatan warganet yang tidak ada ujungnya? Ditambah lagi kalau kamu sedang terjebak di kamar kos menatap tumpukan jurnal untuk bahan makalah atau deretan revisi laporan praktikum yang rasanya setinggi gunung.

Kepala rasanya mau pecah dan dunia modern ini seolah berputar terlalu cepat sampai kita nyaris lupa caranya mengambil napas panjang. Kita seakan terus dipaksa berlari tanpa boleh duduk istirahat barang sejenak.

Anehnya, di tengah gempuran stres dan budaya serba instan ini algoritma internet justru membawa generasi Z menemukan pelarian yang amat tidak terduga. Alih-alih mencari alunan musik bising dengan tempo super cepat, banyak anak muda malah beramai ramai memutar mesin waktu. Mereka kembali ke era delapan puluhan untuk mencari kedamaian batin lewat alunan nada.

Fenomena luar biasa ini bermula ketika algoritma platform video secara ajaib menyodorkan lagu berjudul Plastic Love milik penyanyi legendaris Jepang Mariya Takeuchi ke layar jutaan orang.

Dari situlah gerbang aliran City Pop kembali terbuka sangat lebar. Ketukan drum analog yang santai alunan bas yang tebal dan elegan serta vokal Mariya Takeuchi yang melankolis sukses menyihir telinga pendengar modern.

Foto Trio produser Laleilmanino pencetak lagu hits bernuansa retro favorit Gen Z masa kini. (Foto: Spotify/Laleilmanino)Trio produser Laleilmanino pencetak lagu hits bernuansa retro favorit Gen Z masa kini. (Foto: Spotify/Laleilmanino)

Mendengarkan lagu ini rasanya seolah kita sedang menyetir mobil menyusuri gemerlap lampu neon kota Tokyo pada era keemasannya meski realitasnya kita hanya sedang merebahkan diri di atas kasur kos yang berantakan.

Namun tren ini ternyata tidak berhenti di ranah musik luar negeri saja. Telinga anak muda Indonesia yang sudah terlanjur jatuh cinta pada estetika retro ini akhirnya mulai menggali harta karun di negeri sendiri. Momen inilah yang memicu kebangkitan luar biasa dari era Pop Kreatif Indonesia.

Musisi jenius tanah air di dekade delapan puluhan ternyata punya koleksi karya yang secara kualitas tidak kalah berkelas dari musisi internasional.

Contohnya lagu Sakura atau Barcelona milik maestro Fariz RM. Sensasi magis dari paduan alat musik jadulnya benar benar tidak tertandingi. Belum lagi deretan musik manis mendiang Chrisye seperti Anak Sekolah yang liriknya amat sangat jujur polos dan membumi.

Alunan instrumen di lagu lagu tersebut seolah menjadi selimut hangat bagi mental gen Z yang sedang kelelahan. Tren estetika lawas ini makin sempurna dengan hadirnya grup masa kini seperti Diskoria dan Laleilmanino yang rajin meracik lagu baru namun dengan nuansa Pop Kreatif yang amat sangat kental untuk mengajak anak muda berdansa merayakan hidup.

Fenomena gandrungnya anak muda pada irama City Pop dan Pop Kreatif bukanlah sekadar ikut ikutan tren fana semata. Ini adalah bentuk perlawanan diam diam generasi kita terhadap dunia yang menuntut semuanya serba cepat dan sempurna.

Memutar musik lawas adalah cara termudah dan termurah untuk melakukan penyembuhan mental sekaligus mengembalikan kewarasan. Jadi kalau malam ini barisan tugas atau kerjaan kantormu terasa makin mencekik, coba rehat sejenak. Pasang earphone di telingamu putar mahakarya Mariya Takeuchi atau Fariz RM dan biarkan irama masa lalu menenangkan jiwamu yang lelah. (*)

Tombol Google News

Tags:

City Pop pop kreatif laleilmanino diskoria Gen Z musik retro musik nostalgia