Amankah Ibu Hamil Berpuasa di Bulan Ramadan? Ini Penjelasan Dokter Kandungan RSUD Jombang

5 Maret 2026 09:00 5 Mar 2026 09:00

Thumbnail Amankah Ibu Hamil Berpuasa di Bulan Ramadan? Ini Penjelasan Dokter Kandungan RSUD Jombang

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSUD Jombang, dr. Sulistyowati, Sp.OG (kanan). (Foto: Syaiful Arif/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Pertanyaan seputar keamanan puasa bagi ibu hamil kerap muncul setiap Ramadan. Meskipun puasa adalah ibadah yang sangat dihargai, namun bagi ibu hamil, ada sejumlah pertimbangan yang perlu diperhatikan. 

Karena, ada beberapa kondisi ibu hamil yang disarankan tidak berpuasa. Kondisi tersebut di antaranya janin yang dikandungnya tidak berkembang dengan optimal, mengalami preeklampsia atau tekanan darah tinggi saat hamil, kekurangan cairan ketuban, hingga masalah di lambung atau saluran pencernaan.

Sebab jika dipaksakan untuk tetap berpuasa, ibu hamil bisa kekurangan cairan dan nutrisi sehingga berpotensi berbahaya bagi janinnya.

Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk memahami potensi risiko dan berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSUD Jombang, dr. Sulistyowati, Sp.OG, menegaskan bahwa pada dasarnya ibu hamil boleh berpuasa, dengan catatan kondisi kehamilan tergolong risiko rendah dan ibu serta janin dalam keadaan sehat..

“Jawaban utamanya boleh, asal kehamilan risiko rendah dan kondisi ibu serta janin baik. Semua harus aman, bukan hanya ibunya tapi juga janinnya,” ujarnya, Rabu 4 Maret 2026.

Menurut dr. Sulistyowati, kondisi ibu hamil berbeda-beda di setiap trimester, sehingga keputusan berpuasa perlu disesuaikan.

Trimester pertama

Pada fase ini, ibu hamil umumnya sering mengalami mual dan muntah (morning sickness). Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kekurangan cairan atau dehidrasi. Jika keluhan cukup berat, sebaiknya ibu tidak memaksakan diri berpuasa.

“Kalau sampai dehidrasi, tentu tidak baik bagi ibu dan janin,” jelasnya.

Trimester kedua

Memasuki trimester kedua, kondisi kehamilan biasanya lebih stabil. Keluhan mual dan muntah cenderung berkurang. Jika tidak ada masalah kesehatan, ibu hamil pada fase ini relatif lebih aman untuk menjalankan puasa, dengan tetap melakukan pemantauan rutin.

Trimester ketiga

Pada trimester akhir, ibu hamil perlu kembali waspada. Produksi air ketuban bisa mulai menurun, sementara kebutuhan nutrisi janin meningkat.

“Kalau sudah mendekati persalinan, kita harus lebih hati-hati. Jangan sampai kekurangan cairan, karena dapat mempengaruhi produksi air ketuban,” tegasnya.

Kondisi yang Tidak Dianjurkan Berpuasa

dr. Sulistyowati menekankan, ada beberapa kondisi medis yang membuat ibu hamil sebaiknya tidak berpuasa, diantaranya anemia, tekanan darah tinggi, diabetes dalam kehamilan (diabetes gestasional), dan riwayat kontraksi dini atau kram perut berulang.

Dalam kondisi tersebut, puasa berpotensi memperburuk kesehatan ibu dan janin.

Lalu bagaimana jika ibu hamil tetap berpuasa, dr Sulistyowati menyarankan selain memperhatikan kondisi medis, pola makan saat sahur dan berbuka juga krusial. Ibu hamil dianjurkan mengonsumsi cairan minimal dua liter per hari selama waktu berbuka hingga sahur.

Saat berbuka, hindari konsumsi makanan atau minuman tinggi gula secara berlebihan.

“Kelebihan gula secara tiba-tiba sangat berbahaya bagi ibu hamil. Itu bisa berdampak serius, bahkan berisiko pada kondisi janin,” ujarnya.

Ia menyarankan berbuka secara bertahap, dimulai dengan makanan ringan yang sehat, lalu dilanjutkan dengan menu utama bergizi seimbang.

Tanda Puasa Harus Dibatalkan

Ibu hamil yang berpuasa wajib memantau kondisi tubuh dan janinnya. Gerak janin tetap normal. Jika gerakan janin berkurang dari biasanya, segera konsultasikan ke dokter.

Jika ibu merasa pusing, lemas berlebihan, atau jantung berdebar, puasa sebaiknya segera dibatalkan.

Tips Sehat dan Produktif untuk Ibu Hamil Saat Puasa

Agar tetap sehat dan produktif selama Ramadan, dr. Sulistyowati membagikan sejumlah tips:

1. Pilih nutrisi tepat saat sahur

Hindari karbohidrat sederhana seperti roti manis atau kue yang akan cepat membuat lapar. Pilih makanan tinggi serat, protein, serta karbohidrat kompleks agar energi bertahan lebih lama.

2. Rutin kontrol kehamilan

Pemantauan gerak janin dapat dilakukan oleh ibu hamil secara mandiri, sedangkan jumlah air ketuban, pertumbuhan janin dapat dipantau melalui pemeriksaan USG.

Untuk trimester pertama dan kedua, pemeriksaan dapat dilakukan setiap empat minggu sekali sesuai anjuran dokter. Sementara pada trimester ketiga, kontrol kehamilan dilakukan setiap dua minggu atau seminggu sekali sesuai kondisi ibu dan atau janin.

3. Jangan memaksakan diri

Jika kondisi tubuh tidak memungkinkan, ibu hamil dianjurkan tidak memaksakan puasa demi keselamatan bersama.

Puasa bagi ibu hamil pada dasarnya diperbolehkan selama kondisi kehamilan tergolong risiko rendah dan tidak ada gangguan kesehatan. Kunci utamanya adalah memastikan ibu dan janin tetap aman melalui pemantauan rutin, asupan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan.

Konsultasi dengan dokter kandungan sebelum memutuskan berpuasa menjadi langkah penting agar ibadah tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan ibu dan buah hati.

Tombol Google News

Tags:

RSUD Jombang ibu hamil puasa tips kesehatan ibu hamil dokter Sulistyowati dokter kandungan rsud jombang Tips kesehatan Ibu hamil puasa