KETIK, JAKARTA – Sore hari di bulan Ramadan selalu memiliki suasananya tersendiri. Jalanan mulai diwarnai hiruk-pikuk warga, sementara gema lantunan ayat suci terdengar sayup-sayup dari pengeras suara masjid.
Tradisi "ngabuburit" atau menunggu waktu berbuka puasa tak sekadar menjadi rutinitas menghabiskan waktu, melainkan telah berevolusi menjadi momen pelepasan penat setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Tahun ini, antusiasme masyarakat dalam mengisi waktu jelang Maghrib tampak semakin berwarna. Tidak hanya didominasi oleh kegiatan di luar ruang yang melibatkan keramaian, banyak juga yang memilih menghabiskan sore dengan aktivitas dirumah yang tak kalah serunya.
Bagi para pecinta kuliner, berburu takjil jelas masih menduduki peringkat teratas. Menjelang pukul empat sore, lapak-lapak pedagang dadakan biasanya sudah mulai diserbu pembeli.
Aneka jajanan seakan berlomba menggoda mata. Aroma khas gorengan yang baru diangkat dari wajan panas, gurihnya risol mayo yang lumer di mulut, hingga kesegaran es dawet dan es pisang ijo menjadi primadona yang paling cepat ludes diburu warga.
Fenomena antrean panjang demi seporsi es pisang ijo yang dingin dan manis seakan menjadi pemandangan wajib yang menghidupkan ekonomi akar rumput di berbagai sudut jalan raya.
Namun, di tengah padatnya jalanan ibu kota, tren ngabuburit di dalam rumah (indoor) ternyata kian digemari, khususnya bagi mereka yang enggan terjebak kemacetan sore hari. Menyelami dunia fiksi lewat serial animasi menjadi salah satu pelarian yang sempurna.
Menariknya, tontonan yang dipilih seringkali bukan tontonan aksi yang memacu adrenalin, melainkan cerita dengan ritme santai yang menenangkan pikiran.
Banyak kalangan dari remaja hingga dewasa kini memilih maraton serial seperti Gin no Saji (Silver Spoon) yang menyajikan kelucuan sekaligus realita kehidupan sekolah pertanian, atau Hyouka bagi mereka yang senang memecahkan teka-teki misteri ringan dengan visual yang memanjakan mata.
Sajian visual dengan alur santai semacam ini terbukti sangat ampuh membuat waktu satu hingga dua jam menjelang azan Maghrib terasa berlalu begitu cepat tanpa menguras energi fisik.
Selain kuliner dan hiburan visual, tren produktivitas sosial juga mulai mewarnai sore Ramadan. Beberapa komunitas lokal di kota-kota besar rutin menginisiasi gerakan ngabuburit sambil berbagi.
Mereka biasanya berkumpul membuat paket berbuka sederhana, lalu menyusuri jalanan untuk membagikan makanan kepada para pekerja informal atau pengendara yang masih terjebak di jalan raya saat azan berkumandang.
Tak ketinggalan, bagi mereka yang sadar akan pentingnya menjaga kebugaran, olahraga ringan di sore hari tetap tak luput dari agenda. Alih-alih hanya rebahan menunggu waktu berbuka, jalan santai di sekitar kawasan perumahan atau bersepeda perlahan mengitari taman kota masih banyak dilakukan. Intensitasnya tentu disesuaikan agar tidak memicu kelelahan berlebih maupun dehidrasi.
Pada akhirnya, tidak ada aturan baku mengenai bagaimana tradisi ngabuburit harus dijalankan. Esensi dari kegiatan sore ini adalah upaya mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil untuk menyambut dentuman bedug Maghrib dengan penuh suka cita.
Entah itu dengan menembus kemacetan demi sekantong gorengan hangat, meracik takjil sendiri di dapur, atau sekadar duduk bersandar di sofa ditemani episode terbaru serial favorit, setiap orang berhak memiliki cara uniknya masing-masing untuk merayakan sore di bulan yang suci ini.(*)
