KETIK, YOGYAKARTA – Meningkatnya perhatian dunia terhadap penyebaran virus Nipah kembali memicu kewaspadaan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi ini dikenal berbahaya karena mampu menyerang sistem saraf dan memicu komplikasi serius hingga kematian. Meski Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, kesamaan kondisi ekologis dengan negara terdampak membuat langkah antisipatif tetap diperlukan. Edukasi berbasis medis pun menjadi kunci agar masyarakat memahami risiko secara rasional dan tidak panik.
Dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM sekaligus Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM, dr. M. Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK, menjelaskan bahwa tingkat kematian akibat virus Nipah sangat bergantung pada kesiapan fasilitas kesehatan dan kecepatan penanganan pasien. Dalam sejumlah wabah, jumlah kematian tercatat sangat tinggi dibandingkan total kasus yang teridentifikasi.
“Case fatality rate virus Nipah diperkirakan berkisar antara 40 hingga 75 persen, bergantung pada sistem kesehatan dan penanganan klinis,” ungkap Edwin seperti dikutip dari laman resmi UGM, Jumat, 13 Februari 2026.
Virus Nipah tidak hanya mematikan, tetapi juga agresif. Virus ini dapat menyerang sistem saraf pusat dan memicu ensefalitis atau peradangan otak yang berat. Pasien dapat mengalami penurunan kesadaran dan kejang dalam waktu singkat akibat kerusakan neurologis yang progresif. “Virus ini bisa menyerang otak dan memicu penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian dalam waktu relatif singkat,” Edwin berujar.
Pada tahap awal, infeksi virus Nipah sering kali sulit dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi virus biasa. Kondisi ini membuat diagnosis kerap terlambat sehingga meningkatkan risiko perburukan. “Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan,” ia berkata.
Dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat. Gangguan saraf seperti disorientasi, penurunan kesadaran, dan kejang menjadi tanda infeksi telah melibatkan otak. Pada sebagian kasus, gangguan pernapasan juga muncul dan memperberat kondisi klinis. Edwin menegaskan bahwa kecepatan perburukan inilah yang menjadi tantangan utama tenaga medis. “Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.
Terkait potensi kemunculan virus Nipah di Indonesia, Edwin memastikan hingga kini belum ada laporan kasus pada manusia. Namun, risiko tetap perlu diwaspadai mengingat Indonesia berada di kawasan dengan karakteristik ekologi serupa dengan wilayah endemis di Asia Tenggara. Keberadaan reservoir alami virus serta laporan wabah di negara tetangga meningkatkan potensi penularan lintas wilayah. “Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” Edwin menjelaskan.
Jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah pada infeksi virus Nipah, rumah sakit rujukan akan langsung menerapkan protokol penyakit infeksi emerging. Tenaga medis akan mengidentifikasi riwayat perjalanan dan paparan pasien, melakukan isolasi ketat, serta menerapkan standar kewaspadaan transmisi. Pemeriksaan laboratorium molekuler dan terapi suportif intensif menjadi bagian dari penanganan awal. “Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” katanya.
Edwin menambahkan bahwa Indonesia telah memiliki sistem surveilans untuk penyakit infeksi emerging serta jaringan rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan flu burung turut memperkuat kesiapan nasional. Meski demikian, peningkatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia di sejumlah wilayah masih perlu diperkuat.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan langkah pencegahan dasar. “Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin.
