Lebaran tahun ini, kami bertemu. Teman-teman lama yang pulang kampung, dengan jalan hidup yang kini beragam: ada yang menjadi dosen, pengusaha, diplomat, dan akademisi. Awalnya, percakapan seperti biasa tentang keluarga, pekerjaan, dan kesibukan diselingi tawa, mengenang masa lalu, dan berbagi cerita masa kini.
Seorang dosen senior bercerita, “Saya kadang heran. Mahasiswa sekarang pintar, tapi diberi kritik sedikit saja langsung overthinking. Dikasih masukan malah terasa seperti diserang. Begitu ada yang tidak sesuai ekspektasi, langsung goyah. Lalu melanjutkan, “Kalau di tahap belajar saja sudah seperti itu, bagaimana nanti saat mereka masuk ke dunia kerja yang tekanannya lebih nyata?”
Seorang teman pengusaha menimpali, “Di tempat saya juga sama. Banyak pelamar datang minta gaji tinggi, tapi pengalaman belum ada. Waktu ditawari mulai dari bawah dulu, banyak yang tidak mau.” Ia tersenyum tipis. “Kadang, sebelum benar-benar diuji, sudah terlihat tidak siap menjalani proses. Dan akhirnya, ya sulit untuk diterima.”
Seorang diplomat ikut bicara, “Di kami juga begitu. Banyak diplomat muda yang sudah punya rencana sendiri. Maunya ditempatkan sesuai keinginan. Kalau tidak sesuai, dianggap masalah. Bahkan ada yang lebih memilih menerima sanksi daripada ditempatkan di lokasi yang tidak diinginkan.Lalu ia menambahkan, “Padahal profesi ini menuntut kesiapan ditempatkan di mana saja. Kalau sejak awal sudah memilih, yang dipertanyakan bukan hanya kemampuannya, tetapi kesiapan dan karakternya.”
Obrolan makin hidup. Semua punya cerita. Tanpa disadari, pembicaraan membawa kami kembali ke masa lalu, masa ketika kritik adalah hal biasa, ujian bisa datang mendadak, dan teguran tidak selalu nyaman.
Tidak menyenangkan, tetapi membentuk. Kami terbiasa menghadapi kejutan, menyesuaikan diri, dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Daya tahan itu tidak diajarkan secara langsung; ia terbentuk dari pengalaman. Lalu kami mulai bertanya: apa yang sebenarnya terjadi dengan generasi sekarang?
Bukan Kurang Pintar, Tetapi Kurang Tahan Banting
Di tengah diskusi itu, muncul pertanyaan reflektif: apakah ini karena zamannya sudah berbeda? Apakah tantangan teknologi turut memengaruhi? Kami menyadari, generasi saat ini terbiasa menghadapi tantangan di dunia maya, seperti bermain gim, yang membuat mereka akrab dengan simulasi: terlihat mampu, tetapi belum benar-benar teruji dalam situasi nyata.
Seorang teman yang sedang menempuh pendidikan S3 di luar negeri menambahkan bahwa di zaman ini muncul “strata baru” dalam kehidupan sosial. Bukan lagi tentang kontribusi, tetapi keterlihatan, jumlah pengikut, jumlah “like”. Anak-anak tumbuh dalam sistem yang membuat mereka percaya bahwa nilai diri dapat diukur dengan angka.
Lebih jauh lagi, teknologi mengaburkan batas antara yang nyata dan yang semu. Apa yang terlihat di layar terasa seperti pengalaman, padahal belum tentu benar-benar dialami. Interaksi menjadi cepat, solusi terasa instan, dan banyak hal dapat diselesaikan tanpa melalui proses panjang.
Anak terbiasa dengan sesuatu yang terkontrol dan dapat diprediksi. Kesalahan bisa segera diperbaiki, kegagalan bisa diulang, dan proses terasa selalu dalam kendali. Sementara kehidupan nyata tidak demikian. Tidak semua hal bisa diulang, tidak semua kesalahan dapat diperbaiki, dan tidak semua usaha langsung menghasilkan. Ada tekanan, ketidakpastian, dan situasi yang tidak bisa dikendalikan.
Di sinilah letak perbedaannya. Yang melemah bukan kecerdasan, tetapi kebiasaan menghadapi realitas. Mereka jarang mengalami situasi yang benar-benar di luar kendali, jarang menghadapi kegagalan tanpa solusi instan, dan jarang bertahan dalam ketidaknyamanan.
Menempatkan Kembali Pendidikan pada Fungsinya
Obrolan kami terus berlanjut. Dari pengalaman di dunia kerja, pembicaraan perlahan bergeser ke dunia Pendidikan, tempat semua proses itu sebenarnya bermula. Kami mendengar cerita tentang seorang petani di desa yang harus membeli komputer hingga belasan juta rupiah karena anaknya di sekolah dasar sudah diajarkan coding. Bagi banyak keluarga, itu menjadi beban besar. Padahal, fasilitas seperti laboratorium komputer sekolah sebenarnya bisa dimanfaatkan secara bersama.
Dari situ muncul pertanyaan: apakah ini benar kebutuhan anak, atau justru ambisi sistem? Bukankah sekolah dasar seharusnya menjadi tempat membangun fondasi, nilai, empati, dan keberanian?
Salah satu dari kami kemudian berkomentar, “Pendidikan sekarang menjadi jasa. Seperti layanan yang harus memuaskan. Jangan sampai ada komplain.” Kalimat itu membuat kami terdiam sejenak. Ada sesuatu yang terasa benar, tetapi sekaligus menggelisahkan.
Jika pendidikan sepenuhnya diposisikan sebagai layanan, maka orientasinya bergeser: dari membentuk manusia menjadi memenuhi kepuasan. Dalam proses itu, ada hal penting yang perlahan hilang, daya tahan. Fenomena ini tentu tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan perubahan cara kita memandang pendidikan secara lebih luas.
Dalam pemikiran pendidikan yang dikembangkan UNESCO sejak tahun 1970-an hingga 1990-an, pendidikan dipahami sebagai proses membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya membuat seseorang tahu dan mampu, tetapi juga menjadi pribadi yang matang, berkarakter, dan siap menjalani kehidupan.
Namun, memasuki era globalisasi, cara pandang itu mulai bergeser. Sejak awal 2000-an, melalui kerangka WTO dan GATS (General Agreement on Trade in Services), pendidikan mulai diposisikan sebagai bagian dari sektor jasa. Fokus bergeser pada kompetensi, keterampilan, dan hasil yang terukur.
Perubahan ini membawa manfaat: akses yang lebih luas, standar yang lebih jelas, dan keterampilan yang lebih relevan. Namun, pada saat yang sama, pembentukan karakter, ketahanan, dan kedewasaan tidak lagi mendapat perhatian yang seimbang. Di titik ini, persoalannya menjadi jelas: masalahnya bukan pada generasinya, melainkan pada cara kita mendidik mereka.
Mengembalikan Pengalaman Nyata
Anak perlu mengalami, bukan hanya memahami. Menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman, mengalami kegagalan, lalu mencoba lagi, itulah proses yang membentuk ketangguhan. Nilai-nilai ini tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari pengalaman menghadapi ketidakpastian. Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan, “Seluruh kehidupan adalah sekolah.”
Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tanpa pengalaman itu, daya tahan sulit tumbuh. Di sini, peran orang tua menjadi penting. Ketika anak menghadapi kesulitan, respons pertama sering kali adalah melindungi, dan itu wajar. Namun, tidak semua kesulitan perlu dihilangkan. Memberi ruang bagi anak untuk merasakan konsekuensi kecil hari ini adalah cara agar mereka siap menghadapi konsekuensi yang lebih besar di masa depan.
Yang perlu kita pikirkan bukan hanya bagaimana membuat anak berhasil, tetapi bagaimana membuat mereka tetap kuat ketika gagal. Anak-anak perlu dipahami bahwa mereka hidup di dunia yang penuh ketidakpastian. Yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan, tetapi resiliensi dalam menghadapi perubahan.
Memberi ruang bagi anak untuk mencoba dan gagal, serta membiasakan mereka menjalani proses, bukan hanya mengejar hasil. Merencanakan itu penting, tetapi yang lebih penting adalah kemampuan bertahan ketika rencana tidak berjalan.
Dalam ajaran Islam, proses ini bukan hal yang asing. Sabar ketika hasil belum terlihat, ikhlas ketika usaha tidak selalu berbanding lurus dengan hasil, dan menerima bahwa tidak semua berjalan sesuai keinginan, di situlah seseorang belajar tawakal: berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menerima hasil dengan lapang.
Dan itu tidak bisa diajarkan lewat teori. Ia hanya bisa dibentuk melalui pengalaman. Karena pada akhirnya, yang bertahan bukan yang paling pintar, melainkan yang paling tangguh, yang mampu menghadapi kegagalan tanpa menyerah, tetap berjalan meskipun tidak sesuai rencana, dan bertahan dalam situasi yang tidak nyaman tanpa kehilangan arah. (*)
*) Niken Rooshany, praktisi pendidikan, Humas IT YPI Al Azhar Jawa Timur
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.
