UB Sulap Limbah Kambing Jadi Pupuk Bernilai Jual di Banyuwangi

9 April 2026 05:20 9 Apr 2026 05:20

Illa Khoirur R., Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail UB Sulap Limbah Kambing Jadi Pupuk Bernilai Jual di Banyuwangi

Tim MMD yang Terlibat dalam Kegiatan Doktor Mengabdi ( Foto: dok. yog/Humas UB)

KETIK, MALANG – Limbah kotoran kambing di Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, yang selama ini terabaikan kini diolah menjadi pupuk organik bernilai jual melalui program Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2025.

Program ini dipimpin oleh Dr. Yusron Sugiarto, STP., MP., MSc., Ph.D dari Fakultas Teknologi Pertanian UB, bersama tim dosen dan mahasiswa Mahasiswa Membangun Desa – Doktor Mengabdi (MMD-DM).

Desa Secang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan peternakan. Namun, selama ini kotoran kambing dari ternak warga belum dimanfaatkan secara optimal, padahal mengandung unsur hara penting seperti Nitrogen 1,19 persen, Fosfor (P₂O₅) 0,92 persen, dan Kalium (K₂O) 1,58 persen yang baik untuk kesuburan tanah.

Sebagai solusi, tim UB menghadirkan mesin perajang dan penggiling serbaguna berkapasitas 100–150 kilogram per jam untuk mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik. Selain itu, bersama warga dibangun rumah produksi sederhana berbahan bambu dan plastik UV yang mudah direplikasi.

“Dengan mesin ini, kotoran kambing yang sebelumnya menjadi masalah kini bisa diolah menjadi pupuk berkualitas dalam waktu singkat,” ujar Yusron.

Dalam pelaksanaannya, tujuh mahasiswa MMD-DM turut menjalankan berbagai program, mulai dari sosialisasi penggunaan mesin hingga pelatihan fermentasi bertema “Gerakan Pupuk Mandiri, Kebun Subur”. Warga diajarkan mengolah campuran kotoran kambing dengan EM4, dolomit, molase, dan sekam yang difermentasi selama 14–21 hari.

Program ini juga mencakup penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi guna menjaga kualitas pupuk. Hasilnya kemudian diuji langsung di kebun kopi organik milik warga.

Sebanyak 95 peserta mengikuti tujuh sesi pelatihan selama Juli–Agustus 2025. Dari kegiatan ini, lahir produk pupuk organik dengan merek “Pupuk Kanara”.

Tak hanya produksi, warga juga dibekali pelatihan branding dan pemasaran. Tingkat pemahaman peserta terkait pentingnya branding meningkat dari 64,4 persen menjadi 100 persen setelah pelatihan.

Dari sisi ekonomi, biaya produksi pupuk organik tercatat sekitar Rp3.580 per kilogram dengan harga jual Rp5.000 per kemasan. Dengan penjualan lima kemasan per hari, keuntungan bersih diperkirakan mencapai Rp213.000 per bulan, dengan titik impas pada 106 kemasan per bulan.

Efektivitas program diukur menggunakan metode N-Gain, dengan lima dari tujuh program masuk kategori efektif dan dua lainnya cukup efektif.

Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis limbah ternak di tingkat desa. Ke depan, model pengolahan ini juga berpotensi direplikasi di wilayah lain. (*)

Tombol Google News

Tags:

UB Universitas Brawijaya Mahasiswa Membangun Desa Dosen Mengabdi malang Banyuwangi