Banjir Malang Makin Parah: Aliran Sungai Menyempit, Drainase Warisan Belanda Tertutup Sampah

1 April 2026 15:19 1 Apr 2026 15:19

Thumbnail Banjir Malang Makin Parah: Aliran Sungai Menyempit, Drainase Warisan Belanda Tertutup Sampah

Dito Arief Nurakhmadi saat memberikan keterangan terkait banjir di Kota Malang. (Foto: Illa/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Banjir di Kota Malang masih menjadi persoalan kompleks. Titik genangan terus bertambah dengan durasi yang semakin lama, sehingga menyulitkan warga di sejumlah kawasan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, menilai kondisi ini seharusnya tidak terjadi jika melihat letak geografis Kota Malang yang dikelilingi pegunungan dan dilalui sejumlah sungai. 

“Secara logika, meskipun ini problem urban, mestinya tidak terjadi banjir yang lama atau air menggenang terlalu lama,” ujarnya.

Secara infrastruktur, Kota Malang sebenarnya memiliki sistem drainase yang cukup baik, bahkan merupakan peninggalan sejak zaman Belanda. Hal ini juga telah disampaikan oleh sejumlah ahli dari Brawijaya dan beberapa kampus lain.

Namun, masalah banjir tidak hanya soal infrastruktur. Banyak saluran yang kini tertutup sampah, lumpur, dan bangunan, termasuk anak-anak sungai.

“Terjadi penyempitan drainase dan aliran sungai sehingga air yang seharusnya mengalir ke Kali Brantas dan sungai besar lainnya tidak dapat berjalan optimal,” tambah Dito.

Beberapa aliran yang seharusnya lurus kini berbelok, meningkatkan potensi luapan air. Posisi Kota Malang yang berada di bawah, sementara di atas ada Kota Batu, membuat debit air meningkat saat curah hujan tinggi.

Selain itu, persoalan banjir juga berkaitan dengan kebiasaan dan kesadaran masyarakat. Banyak terjadi alih fungsi saluran air dan penutupan drainase.

“Ini bukan hanya problem pemerintah, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Penertiban dari pihak berwenang sangat penting,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

malang DPRD Kota Malang Komisi C banjir malang