KETIK, MALANG – Pemerintah kembali menyelenggarakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMP/MTs/sederajat sebagai bagian dari kebijakan pemetaan capaian belajar siswa. Pada tahun ini, pelaksanaan TKA turut melibatkan peserta didik dari Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk tingkat SMPLB.
Di berbagai daerah, pelaksanaan TKA menunjukkan suasana yang positif dan penuh semangat. Para siswa hadir sejak pagi dan mengikuti ujian dengan antusias, meskipun sebagian dari mereka menghadapi keterbatasan fisik.
Di SLBN Pandaan, Jawa Timur, misalnya, pelaksanaan TKA berlangsung hangat dan kondusif. Para siswa terlihat siap mengikuti ujian dan menunjukkan motivasi belajar yang tinggi.
“Kami melihat tekad dan semangat yang luar biasa dari siswa untuk mencoba dan belajar melalui tes ini,” ujar Kepala SLBN Pandaan, Iva Evry Robiyansah, Rabu, 8 April 2026.
Sebanyak enam siswa SMPLB di sekolah tersebut mengikuti TKA, dan seluruhnya merupakan siswa tunarungu.
Situasi serupa juga tampak di SLBN Semarang, Jawa Tengah. Pelaksanaan ujian berlangsung santai tanpa tekanan, sehingga siswa dapat mengerjakan soal dengan nyaman. Tiga peserta yang terdiri dari dua siswa tunarungu dan satu tunanetra mampu menyelesaikan ujian dengan suasana tetap ceria.
“Kami memang sudah mempersiapkan mereka sejak jauh hari, jadi mereka lebih siap saat mengerjakan soal,” kata Kepala SLBN Semarang, Sri Sugiarti.
Antusiasme tinggi juga terlihat di SLBN Halmahera Barat. Bahkan, terdapat siswa tunagrahita yang secara aturan tidak diwajibkan mengikuti TKA, namun tetap berinisiatif untuk berpartisipasi.
“Ada siswa yang sebenarnya boleh tidak ikut, tapi dia justru ingin mencoba,” ujar Kepala SLBN Halmahera Barat, Ismawati Muhammad.
Di sekolah tersebut, sembilan siswa SMPLB mengikuti TKA. Pihak sekolah telah memberikan pelatihan penggunaan komputer serta menyiapkan pendamping guna memastikan siswa dapat mengikuti ujian dengan baik.
Sementara itu, peserta dari SLBN Pembina Tingkat Nasional Jakarta, Raka Aditomo Subagyo, mengaku optimistis menghadapi ujian karena materi yang diujikan sudah dipelajari sebelumnya.
“Saya optimis karena soal-soalnya sudah kami pelajari,” kata Raka.
Meski demikian, ia mengakui adanya kendala, terutama pada soal berbasis visual. Sebagai siswa tunanetra, ia membutuhkan bantuan pendamping untuk memahami soal. Selain itu, penggunaan headset yang terhubung dengan screen reader membantu siswa dalam membaca soal sekaligus menjaga konsentrasi selama ujian.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat pemetaan akademik, tetapi juga akan digunakan sebagai salah satu komponen dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Hasil TKA nantinya akan menjadi bagian dari penilaian dalam proses penerimaan murid baru,” ujarnya.
Ia juga mengimbau seluruh peserta untuk mengerjakan soal dengan jujur dan tidak merasa tertekan selama mengikuti ujian.
Pelaksanaan TKA jenjang SMP/MTs/sederajat dijadwalkan berlangsung hingga dua pekan ke depan. Melalui kegiatan ini, pemerintah berupaya mengumpulkan data yang akurat dan komprehensif sebagai dasar peningkatan mutu pembelajaran serta penyusunan kebijakan pendidikan berbasis data. (*)
