Tekan Kebocoran Tiket, Kampung Kayutangan Heritage Libatkan Warga untuk Pantau Wisatawan

14 Januari 2026 16:30 14 Jan 2026 16:30

Thumbnail Tekan Kebocoran Tiket, Kampung Kayutangan Heritage Libatkan Warga untuk Pantau Wisatawan

Salah satu loket masuk ke Kampung Kayutangan Heritage. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Pengelola Kampung Kayutangan Heritage mengakui masih terjadi kebocoran tiket masuk karena sebagian wisatawan masuk kawasan tanpa melalui loket resmi.

Kondisi tersebut terjadi lantaran belum seluruh akses masuk dilengkapi pos penjualan tiket, mengingat berbagai pertimbangan teknis serta kondisi lingkungan di kawasan permukiman yang padat.

Ketua Pokdarwis Kampung Kayutangan Heritage, Mila Kurniawati, menjelaskan bahwa hingga saat ini pengelola belum menempatkan loket di seluruh pintu masuk kampung. Hal itu dilakukan setelah mempertimbangkan keterbatasan amenitas dan kondisi lingkungan di sekitar akses masuk.

“Kami tidak serta-merta menempatkan loket di semua pintu masuk. Ada banyak pertimbangan, mulai dari kondisi gang, keterbatasan lahan parkir, hingga kepadatan lalu lintas di beberapa titik,” ujar Mila.

Ia mencontohkan kawasan Jalan Semeru yang menjadi salah satu akses menuju kampung. Di lokasi tersebut, ketersediaan lahan parkir sangat terbatas dan arus lalu lintas tergolong padat, sehingga menyulitkan kendaraan besar seperti bus wisata untuk berhenti atau menurunkan penumpang.

“Di Jalan Semeru itu parkir hampir tidak ada. Kalau bus berhenti sebentar saja bisa langsung macet, jadi kami belum memungkinkan menempatkan pintu masuk resmi di sana,” jelasnya.

Pertimbangan serupa juga diterapkan pada akses dari Jalan Arjuna. Menurut Mila, jalur tersebut banyak dilalui warga dan pelajar yang aktivitas hariannya memang melintasi kawasan Kayutangan Heritage.

“Di Jalan Arjuna itu ada sekolah dan mayoritas yang melintas adalah warga sendiri atau pelajar yang hanya lewat, bukan wisatawan. Karena itu kami tidak menempatkan loket di sana,” katanya.

Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh wisatawan yang masuk tanpa membeli tiket, sehingga memicu kebocoran pendapatan.

Meski demikian, pengelola tidak tinggal diam dan terus berupaya meminimalkan kebocoran dengan melibatkan peran aktif warga setempat.

“Kami sudah menyampaikan kepada warga bahwa setiap pengunjung seharusnya memiliki tanda masuk berupa postcard. Warga kami libatkan untuk ikut mengingatkan atau mengarahkan wisatawan yang belum memiliki tiket,” tutur Mila.

Ia menegaskan bahwa pendekatan persuasif melalui edukasi masih menjadi langkah utama yang dilakukan pengelola saat ini. Warga didorong untuk ikut berpartisipasi menjaga ketertiban kunjungan demi keberlangsungan kampung wisata.

“Kalau wisatawan tertib membeli tiket dan warga saling mengingatkan, dampaknya akan kembali dirasakan bersama. Itu yang terus kami edukasikan,” ujarnya.

Mila menambahkan, manfaat dari tiket masuk telah dirasakan langsung oleh masyarakat. Hasil kontribusi wisatawan disalurkan secara berkala kepada warga, baik dalam bentuk bantuan sosial maupun program kemasyarakatan.

“Manfaatnya kami bagikan setiap enam bulan atau per semester. Terakhir, kami menyalurkan bantuan berupa beras lima kilogram dan satu liter minyak goreng kepada sekitar 900 warga di empat RW,” ungkapnya.

Tombol Google News

Tags:

Kampung Kayutangan Heritage Kayutangan Heritage Kota Malang