KETIK, SLEMAN – Filosofi "Sleman Sebagai Rumah Bersama" kini kian nyata dirasakan masyarakat melalui transformasi infrastruktur jalan yang semakin mantap.
Di balik kenyamanan warga melintas dari satu kapanewon (kecamatan) ke kapanewon lainnya, terdapat orkestrasi besar yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman.
Melalui Bidang Bina Marga, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen memastikan bahwa setiap jengkal jalan di wilayah ini tidak hanya sekadar jalur transportasi statis, melainkan urat nadi utama yang menggerakkan sektor ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata secara berkelanjutan.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman, Fauzan Ma’ruf, ST., mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya mengambil langkah strategis dengan mengedepankan paradigma pemeliharaan preventif.
Fokus utama anggaran dan tenaga dialokasikan pada program pemeliharaan rutin, khususnya untuk jalan dengan kategori kondisi sedang dan rusak ringan.
Strategi ini diambil untuk mempertahankan kualitas infrastruktur secara merata di 17 Kapanewon agar tetap dalam kondisi mantap sepanjang tahun.
"Kegiatan pemeliharaan rutin kami prioritaskan untuk kondisi jalan sedang dan rusak ringan. Mengapa ini dianggap sangat krusial? Karena pemeliharaan rutin yang dilakukan secara konsisten tiap tahun akan mempertahankan umur rencana (life cycle) jalan tersebut. Kami berupaya menjaga kemantapan jalan agar tetap prima bagi publik sebelum kerusakan kecil berkembang menjadi kerusakan berat yang membutuhkan biaya rehabilitasi jauh lebih besar," ujar Fauzan Ma’ruf saat menjelaskan visi besarnya di kantor DPUPKP Sleman.
Skala Prioritas dan Mitigasi Dampak Cuaca Ekstrem
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Kabupaten Sleman, Fauzan Ma’ruf, ST, saat ditemui di kantornya, Kamis 9 April 2029. Melalui program pemeliharaan rutin, pihaknya menargetkan tingkat kemantapan jalan di Kabupaten Sleman mampu mencapai angka 80 persen guna mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi warga. (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Dalam menentukan ruas jalan mana yang harus segera mendapatkan sentuhan rehabilitasi, Bina Marga tidak bekerja secara acak.
Terdapat parameter teknis dan sosial yang ketat yang digunakan sebagai kompas kerja.
Penentuan skala prioritas tidak hanya didasarkan pada tingkat kerusakan fisik permukaan jalan, namun juga mempertimbangkan aspek konektivitas dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan agar penggunaan anggaran yang terbatas dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat luas.
"Kriteria prioritas kami jelas dan terukur. Kami melihat tingkat kerusakan jalan, namun yang tidak kalah penting adalah fungsi aksesibilitasnya terhadap pusat pendidikan, kawasan pariwisata, pusat distribusi pangan, serta jalur-jalur penyangga yang mengakses jalan nasional maupun provinsi," tegas Fauzan, Kamis 9 April 2026.
Selain itu, strategi penanganan di lapangan juga telah disesuaikan dengan tantangan iklim yang kian tidak menentu.
Untuk memitigasi kerusakan akibat cuaca ekstrem, DPUPKP melakukan optimalisasi penanganan saluran drainase secara masif guna menghindari genangan air yang menjadi musuh utama struktur aspal.
Aspal Mulus, Ekonomi Warga Terus Melaju
Dampak nyata dari perbaikan jalan ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha mikro di sepanjang jalur kabupaten.
Sumaryanto (45), seorang pedagang kelontong di kawasan Sleman Timur, mengaku sangat terbantu dengan kondisi jalan yang kini mulus tanpa lubang. Sebelum diperbaiki, debu dan genangan air saat hujan seringkali membuat pelanggan enggan mampir ke tokonya.
"Dulu kalau hujan, depan toko ini banyak genangan, pembeli jadi malas berhenti. Sekarang jalannya sudah rata dan bersih. Pengiriman barang dari supplier juga jadi lebih cepat dan tidak khawatir barang rusak karena guncangan di jalan. Jujur, ini sangat membantu kelancaran usaha kecil seperti kami," ungkap Sumaryanto dengan nada puas.
Senada dengan itu, Rina (32), seorang komuter yang setiap hari melintasi jalur penghubung antar-kapanewon, merasa waktu tempuhnya menjadi lebih efisien.
"Dulu harus ekstra hati-hati karena banyak lubang yang sering muncul tiba-tiba kalau habis hujan. Sekarang lewat sini jauh lebih nyaman dan merasa lebih aman, terutama kalau pulang kerja malam hari karena markanya juga sudah jelas," tuturnya.
Inovasi Material dan Sinergi Penanganan Overload
Tantangan teknis lain yang kerap dihadapi di lapangan adalah beban kendaraan yang melebihi kapasitas (overload).
Untuk mengatasinya, Bina Marga melakukan inovasi dengan menggunakan teknologi perkerasan beton (rigid pavement) pada ruas-ruas jalan tertentu yang memiliki beban lalu lintas berat.
Meskipun biaya beton lebih besar, namun secara umur konstruksi jauh lebih lama dan tahan terhadap tekanan beban berat.
Koordinasi lintas sektor juga menjadi kunci. Fauzan menjelaskan bahwa pihaknya secara aktif bersinergi dengan Dinas Perhubungan dan Kepolisian.
"Untuk masalah overload, kami memasang rambu batas muatan maksimal 5 ton. Kami menyediakan infrastrukturnya, kemudian Dishub membantu pengaturan lalu lintas, dan Kepolisian melakukan penegakan aturan. Sinergi ini krusial agar jalan yang sudah dibangun dengan biaya besar tidak cepat rusak," tambahnya.
Respon Cepat melalui Tim Reaksi Cepat (TRC)
Kehadiran Tim Reaksi Cepat (TRC) menjadi ujung tombak DPUPKP Sleman dalam merespons keluhan warga.
Melalui aplikasi Sleman Digital atau tautan Lapor Sleman, masyarakat kini memiliki akses langsung untuk melaporkan kerusakan jalan tanpa birokrasi panjang.
"Tim Reaksi Cepat sangat berperan untuk menangani kondisi darurat. Komitmen kami adalah memberikan quick response, sehingga laporan kerusakan yang masuk diupayakan dapat tertangani dalam waktu kurang dari 24 jam. Kami ingin setiap hambatan segera diatasi agar tidak membahayakan keselamatan pengguna jalan," kata Fauzan.
Capaian Signifikan Menuju Target 80 Persen
Hingga akhir Maret 2026, realisasi program pemeliharaan rutin telah mencapai sepanjang 99 kilometer atau sekitar 24,75 persen dari target tahunan.
Angka ini menunjukkan konsistensi kinerja DPUPKP Sleman menuju misi "Sleman Dalane Alus".
Fauzan Ma’ruf pun menitipkan imbauan penting agar masyarakat ikut menjaga kualitas jalan yang telah diperbaiki.
"Kami berharap masyarakat ikut menjaga jalan dengan mematuhi batas tonase dan tidak membuang sampah ke drainase. Target besar kami adalah menyediakan infrastruktur jalan dengan kondisi mantap hingga 80 persen, agar mobilitas warga selalu aman, nyaman, dan efisien untuk masa depan Sleman yang lebih baik," pungkasnya. (*)
