Ritual di Ambang Langit Adisutjipto, Sadranan Agung Wotgaleh dan Mitos ‘Sayap Patah’

8 Februari 2026 16:53 8 Feb 2026 16:53

Thumbnail Ritual di Ambang Langit Adisutjipto, Sadranan Agung Wotgaleh dan Mitos ‘Sayap Patah’

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa (belakang), bersama Panewu Berbah, Djaka Sumarsono (depan, berbaju oranye), menaiki andong saat mengikuti Kirab Budaya Sadranan Agung Wotgaleh di Sendangtirto, Berbah, Sleman, Minggu 8 Februari 2026. (Foto: Prokompim Sleman for Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Di bawah lintasan pesawat yang menderu rendah menuju landasan pacu Bandara Adisutjipto, sebuah tradisi kuno tetap tegak menantang zaman. Minggu, 8 Februari 2026, ribuan warga Sendangtirto, Berbah, Sleman, kembali menggelar Sadranan Agung Wotgaleh.

Ritual ini bukan sekadar rutinitas menyambut Ramadan 1447 Hijriah, melainkan sebuah pernyataan kesetiaan pada akar sejarah Mataram Islam.

Prosesi dimulai dengan Kirab Budaya yang semarak. Sebagaimana dilaporkan oleh Gavinrdthya melalui laman Kompasiana, arak-arakan gunungan hasil bumi dan barisan warga berbaju adat bergerak dari Kantor Kapanewon Berbah menuju kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh. Di sana, suasana berubah khidmat saat doa-doa dirapalkan di pusara Pangeran Purbaya, sang "Banteng Mataram."

Menjaga Marwah Sang Panglima

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menjelaskan bahwa Sadranan ini merupakan kewajiban moral warga untuk menjaga sejarah. Baginya, kegiatan di bulan Ruwah atau Sya’ban ini adalah momentum krusial untuk menanamkan rasa syukur.

"Tradisi ini kami laksanakan sebagai bentuk rasa syukur menyambut Ramadan, sekaligus bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur kami. Khususnya Pangeran Purbaya, putra Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam yang dimakamkan di sini," ujar Amir di sela-sela prosesi ziarah.

Adat Budaya di Gerbang Udara

Senada dengan Amir, Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, menekankan bahwa Sadranan Agung ini merupakan aset non-benda yang sangat berharga. Wotgaleh adalah simbol ketahanan budaya di tengah modernitas yang mengepung wilayah Berbah.

Foto Dalam sambutannya dalam acara Sadranan Agung Wotgaleh, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsamenekankan pentingnya melestarikan tradisi sebagai sarana silaturahmi untuk menjaga kerukunan antarwarga. (Foto: Prokompim Sleman for Ketik.com)Dalam sambutannya dalam acara Sadranan Agung Wotgaleh, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsamenekankan pentingnya melestarikan tradisi sebagai sarana silaturahmi untuk menjaga kerukunan antarwarga. (Foto: Prokompim Sleman for Ketik.com)

"Tradisi ini adalah wujud nyata manunggalnya pemerintah, masyarakat, dan nilai-nilai luhur leluhur. Kami di Kapanewon Berbah terus mendukung agar Sadranan Agung Wotgaleh tidak hanya menjadi milik warga lokal, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang memberikan dampak ekonomi tanpa menghilangkan kesakralannya," tutur Djaka.

Mitos yang Melampaui Logika

Bukan Wotgaleh namanya jika tidak menyinggung sisi mistisnya yang melegenda. Kompleks makam ini berada persis di selatan jalur penerbangan. Ada kepercayaan kuat yang disebut mitos "Sayap Patah" keyakinan bahwa benda apa pun yang melintas langsung di atas makam akan jatuh. Mitos ini telah menjadi bagian dari identitas situs yang dikenal paling "wingit" namun dihormati di Yogyakarta ini.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, yang turut larut dalam doa bersama, memandang Sadranan sebagai instrumen integrasi sosial. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada aspek seremonial semata.

“Ini merupakan upaya kita untuk terus melestarikan tradisi dan budaya yang kita miliki. Harapannya bisa jadi ajang silaturahmi agar masyarakat terus guyub rukun semua,” kata Danang.

Puncak acara ditandai dengan rayahan gunungan. Dalam hitungan menit, gunungan hasil bumi ludes diperebutkan warga. Bagi mereka, mendapatkan bagian dari gunungan yang telah didoakan adalah simbol berkah untuk mengawali bulan puasa dengan hati yang bersih. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sadranan Agung Wotgaleh Pangeran Purbaya Berbah Sleman Mataram Islam Tradisi Jawa Ramadan 2026 Wisata Religi Danang Maharsa Djaka Sumarsono Amir Junawan Sendangtirto Budaya Sleman Kirab Budaya Masjid Wotgaleh