KETIK, SLEMAN – Memasuki tahun anggaran 2026, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman semakin memperkuat langkah dalam diseminasi informasi publik. Strategi ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman tidak hanya berhenti di meja birokrasi, namun tersampaikan secara akurat, transparan, dan inklusif hingga menjangkau pelosok kalurahan.
Sebagai pembuka agenda komunikasi publik tahun ini, Diskominfo menyelenggarakan Jumpa Pers Perdana pada Kamis, 5 Februari 2026.
Bertempat di Ruang Rapat Nakula Lantai 3, Kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman, forum strategis ini menjadi jembatan informasi yang mempertemukan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan insan pers. Melalui sinergi ini, pemkab Sleman berupaya menjamin validitas data sekaligus menjadi garda terdepan dalam menangkal hoaks demi menjaga kondusivitas informasi di masyarakat.
Pelestarian Budaya di Hari Kamis Pon
Acara yang digelar di tengah suasana khidmat Kamis Pon ini dipandu oleh Sekretaris Diskominfo Sleman, Noor Hidayati Zakiyah Pramulani, serta dihadiri oleh Kepala Diskominfo Sleman, Budi Santosa, dan jajaran terkait. Berbeda dengan konferensi pers pada umumnya, ruangan dipenuhi dengan nuansa tradisional yang kental.
Sesuai dengan regulasi pelestarian budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, seluruh narasumber tampil elegan mengenakan busana adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta. Para pria tampak berwibawa dengan surjan dan blangkon, sementara para wanita tampil anggun dalam balutan kebaya. Momentum ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sekaligus menegaskan bahwa nilai-nilai luhur seperti sopan santun dan rendah hati tetap menjadi fondasi utama dalam melayani publik.
Visi Kesejahteraan dan Transformasi Digital
Dalam pembukaannya, Noor Hidayati Zakiyah Pramulani memberikan penekanan khusus mengenai esensi dari pertemuan ini:
"Jumpa pers perdana di tahun 2026 ini dengan nuansa yang berbeda. Selain sebagai sarana diseminasi informasi strategis melalui tema 'Penguatan Kesejahteraan Masyarakat Sleman melalui Program Padat Karya, Perlindungan Sosial Inklusif, dan Transformasi Identitas Kependudukan Digital," terangnya.
Kehadiran narasumber dengan busana Gagrak Ngayogyakarta pada Kamis Pon tersebut menunjukkan komitmen nyata bahwa kemajuan teknologi di Sleman berjalan selaras dengan upaya pelestarian akar budaya lokal.
Keunikan Paparan Materi dalam Bahasa Jawa Halus
Puncak perhatian peserta jumpa pers tertuju pada momen saat Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Arifin, menyampaikan paparannya.
Sejalan dengan semangat Kamis Pon, Arifin menyajikan seluruh materi mengenai implementasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) menggunakan bahasa Jawa halus atau Krama Inggil.
Langkah ini memberikan kesan mendalam karena sebuah terobosan teknologi mutakhir seperti IKD dipresentasikan dengan tutur kata yang adiluhung. Pilihan bahasa ini membuktikan bahwa modernisasi birokrasi tidak harus mengikis identitas budaya; sebaliknya, keduanya dapat saling menguatkan.
Untuk memastikan pesan teknis tetap terjaga akurasinya, Diskominfo Sleman telah menyiapkan dokumen garis besar dalam bahasa Indonesia sebagai panduan bagi beberapa jurnalis yang tidak paham bahasa Jawa.
Fokus Ekonomi Kerakyatan dan Perlindungan Sosial
Sesi berikutnya menyoroti aspek kesejahteraan masyarakat. Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Siti Istiqomah Tjatur Sulistijaningtyas, menguraikan bagaimana Program Padat Karya menjadi instrumen vital dalam menyerap tenaga kerja lokal dan memperkuat ekonomi mandiri di tingkat desa. Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Ludiyanta, memaparkan strategi perlindungan sosial yang menjangkau kelompok marginal melalui kepastian identitas hukum.
Melalui perpaduan unik antara tutur bahasa yang santun, busana tradisional, dan visi digitalisasi, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Diskominfo menunjukkan bahwa masa depan yang maju dapat dicapai tanpa harus meninggalkan jati diri keistimewaan Yogyakarta.(*)
