KETIK, JAKARTA – Teknologi pompa air tenaga surya (PATS) kini menjadi solusi vital bagi sektor pertanian di Indonesia, terutama untuk menjawab tantangan irigasi di lahan terpencil yang tidak terjangkau jaringan listrik. Pompa merek Lorentz asal Jerman disebut mampu memangkas biaya operasional petani secara signifikan sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Habibie, Manager Area Jawa Lorentz, menjelaskan bahwa produk ini dirancang khusus untuk efisiensi dan mengatasi kendala infrastruktur di area pertanian.
"Kami lebih ke arah efisiensi. Wilayah sawah seringkali jauh dari jangkauan listrik, sehingga produk ini sangat cocok. Namun, untuk area yang sudah ada listrik pun, pompa tenaga surya tetap efisien karena meniadakan biaya operasional bulanan," ujar Habibie kepada Ketik.com, baru-baru ini.
Menurutnya, teknologi ini menjawab kebutuhan program strategis pemerintah, seperti food estate (cetak sawah), yang seringkali membuka lahan baru di daerah tanpa akses listrik.
"Banyak program cetak sawah berada di lahan yang tidak ada listriknya. Nah, Produk ini menjawab solusi tersebut. Airnya bisa diambil dari ngebor dulu, lalu pompa mengalirkannya menggunakan tenaga surya," jelasnya.
Pompa Air Tenaga Surya Lorentz. (Foto: Naufal/ketik.com)
Keunggulan utama yang ditawarkan adalah pemangkasan biaya operasional. Habibie mengklaim efisiensi yang didapat petani bisa mencapai hampir 50 persen dibandingkan penggunaan genset atau listrik konvensional.
"Kalau dihitung kasar, modal pembelian alat bisa kembali (balik modal) dalam 4-5 tahun, karena setelah itu praktis tidak ada biaya operasional lagi," ungkapnya.
Untuk kebutuhan persawahan, model yang paling banyak diminati adalah kapasitas 3-5 HP (Horsepower).
"Satu pompa kapasitas 3 HP saja sudah efektif untuk mengairi lahan seluas 5 hingga 10 hektar," tambahnya.
Produk ini telah banyak terpasang di berbagai wilayah di Jawa Timur seperti Sumenep, Lumajang, Malang, dan Kediri, terutama untuk mengatasi masalah kekeringan saat kemarau panjang.
Meski identik dengan pertanian, aplikasi pompa Lorentz ternyata beragam. Mulai dari irigasi perkebunan, penyediaan air bersih (SPAM) untuk desa dan perumahan, hingga kebutuhan di sektor pariwisata dan pabrik.
Pompa Air Tenaga Surya Lorentz. (Foto: Naufal/ketik.com)
Habibie juga menyoroti ironi yang sering terjadi di lapangan, di mana banyak sawah kekeringan padahal letaknya bersebelahan dengan sungai besar.
"Di sepanjang Bengawan Solo atau Brantas, misalnya. Ada sawah kekeringan padahal di sebelahnya sungai. Selama ini mereka pakai genset. Jika beralih ke tenaga surya, operasionalnya jadi nol. Ini solusinya," tegasnya.
Terkait keamanan, Habibie menjamin produknya relatif aman dari pencurian karena sistem modern Lorentz tidak lagi menggunakan baterai, yang biasanya menjadi incaran. Alat ini juga dilengkapi protektor untuk mengamankan sistem dari sambaran petir.
Dengan kantor pusat di Surabaya dan perwakilan di Indonesia Timur seperti Kupang dan Flores, Lorentz menawarkan paket lengkap dengan harga mulai dari Rp40 jutaan untuk kapasitas terkecil.
"Harga itu sudah satu paket, termasuk panel surya, pompa, dan jasa instalasi di seluruh Indonesia. Kami tidak hanya menjual, tapi juga menyediakan maintenance, pendampingan, dan after sales. Unit yang sudah terpasang 8-10 tahun pun tetap kami pantau," tutupnya. (*)
