Knetz vs SEAbling, Lebih dari Sekadar 'War' Fans K-Pop

28 Februari 2026 18:48 28 Feb 2026 18:48

Thumbnail Knetz vs SEAbling, Lebih dari Sekadar 'War' Fans K-Pop

Knetz vs SEAbling, Lebih dari Sekadar 'War' Fans K-Pop. (Ilustrasi: Gemini AI)

KETIK, MALANG – Fenomena perseteruan antara netizen Korea (Knetz) dan netizen Asia Tenggara (SEAbling) di media sosial dinilai bukan sekadar tawuran antar penggemar K-Pop biasa. Analis Komunikasi dari Universitas Brawijaya (UB), Dr. Verdy Firmantoro, S.I.Kom., M.I.Kom., melihat peristiwa ini sebagai kontestasi identitas digital lintas negara atau transnational digital identity conflict.

“Platform seperti X mempercepat polarisasi, karena algoritmanya dirancang mendorong keterlibatan yang memicu kemarahan. Jadi konflik ini bukan hanya soal budaya, tapi soal platform yang memperkuat emosi kolektif,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi UB, Sabtu, 28 Februari 2026.

Dr. Verdy menjelaskan bahwa ejekan dari Knetz justru berhasil mempersatukan netizen Asia Tenggara yang biasanya sering berselisih sendiri. Rivalitas antarnegara ASEAN yang terfragmentasi seolah sirna saat menghadapi ancaman eksternal yang sama.

Dalam konteks digital, solidaritas ini lahir bukan karena batas teritorial negara, melainkan karena pengalaman kolektif sebagai pihak yang dihujat.

“Perspektif komunikasi menyebut hal ini sebagai reactive solidarity yakni pembingkaian ulang mengenai identitas regional SEAbling,” tambah Dr. Verdy.

Senada namun dari sudut pandang berbeda, pakar antropologi UB, Franciscus Apriwan, M.A., menilai pola konflik ini akan serupa dengan isu viral lainnya: naik sesaat, lalu meredup dan terlupakan.

“Apa yang dilakukan pengguna ruang digital ini hanya atas dorongan dopamin. Saat muncul isu yang lebih seru, maka mereka akan berpindah tempat untuk menaruhkan komentar,” tutur Frans.

Meskipun sepakat atas munculnya solidaritas baru di ASEAN, Frans menyoroti peran kelas menengah di balik fenomena ini. Menurutnya, mereka adalah kelompok yang memiliki akses terhadap budaya K-Pop dan mobilitas tinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Mereka adalah kelas menengah yang mencintai budaya K-Pop. Orang-orang yang punya kesempatan keliling ASEAN sehingga punya relasi kuat. Ketika Knetz menarasikan Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, orang-orang ini ingin menunjukan kebanggan menjadi SEAbling,” jelas Franciscus.

Meski Frans memprediksi isu ini akan segera redup, Dr. Verdy memberikan catatan penting. Menurutnya, jika sentimen negatif ini terus membesar dan membentuk opini publik yang meluas, dampaknya bisa mengganggu diplomasi publik person-to-person (people to people relations), meski tidak berpengaruh langsung pada relasi diplomatik formal negara.

Konflik ini dipicu oleh cuitan seorang netizen Malaysia di platform X terkait penonton asal Korea Selatan yang membawa kamera profesional ke konser Day6 di Malaysia. Tindakan tersebut dianggap melanggar aturan promotor.

Bukannya mereda dengan permintaan maaf, unggahan tersebut justru diserbu Knetz yang melakukan serangan balik. Knetz tidak hanya menyasar netizen Malaysia, tetapi menggeneralisasi penghinaan terhadap seluruh kawasan Asia Tenggara. Hal inilah yang memicu kemarahan kolektif SEAbling, sebutan akrab hasil gabungan Southeast Asia dan siblings (saudara kandung). (*)

Tombol Google News

Tags:

Knetz vs SEAbling Knetz SEAbling Universitas Brawijaya UB malang K-pop Korea