KETIK, SURABAYA – Ramadan sering kali dipahami sebatas bulan menahan lapar dan haus. Banyak orang menyambutnya dengan bayangan tentang sahur, berbuka, dan menahan diri sepanjang hari. Namun jika merujuk pada Al-Qur’an, Ramadhan justru disebut dalam konteks yang sangat istimewa, yaitu sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang memiliki arti Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). ditegaskan bahwa Ramadan adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Artinya, esensi Ramadan tidak berhenti pada puasa, tetapi pada kedekatan dengan wahyu.
Hal ini juga disampaikan oleh Ustadz Felix Siauw, dalam kajiannya di kanal YouTube Kajian Ustadz Felix pada 8 Februari 2026. Ia menekankan bahwa Ramadan dalam Al-Qur’an tidak pertama-tama dilekatkan dengan kewajiban puasa, melainkan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
“Ramadan itu disebut dalam Al-Qur’an bukan dilekatkan dengan puasa, tapi dilekatkan dengan turunnya Al-Qur’an,” ujarnya
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa fokus utama Ramadan seharusnya adalah membangun hubungan dengan Al-Qur’an. Puasa memang ibadah penting, tetapi Al-Qur’an adalah ruh yang menghidupkan bulan tersebut.
Ketika seseorang membaca Al-Qur’an dengan hati yang terbuka, ayat-ayatnya terasa sangat personal. Seolah-olah berbicara langsung kepada kegelisahan terdalam manusia.
“Cara terbaik berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah merasa bahwa ayat itu turun untuk kita sendiri, bukan sekadar untuk orang lain,” ujarnya
Selama ini, tidak jarang orang membaca Al-Qur’an untuk menasihati orang lain, padahal pesan terbesarnya justru untuk diri sendiri.
Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki orientasi hidup. Puasa melatih pengendalian diri, tetapi Al-Qur’an memberi arah dan makna. Tilawah bukan sekadar mengejar khatam, tetapi membangun dialog batin dengan Tuhan. Tarawih bukan sekadar rutinitas malam, tetapi ruang untuk merenungkan tujuan akhir kehidupan.
Esensi Ramadan terletak pada kesadaran untuk kembali kepada Al-Qur’an, kembali kepada petunjuk, dan kembali kepada Allah sebagai satu-satunya sumber kecukupan.
Dengan memahami esensi ini, Ramadan tidak lagi terasa sebagai beban tahunan, melainkan sebagai kesempatan emas untuk memperbarui iman dan menemukan kembali identitas sejati sebagai hamba.(*)
