KETIK, PACITAN – Kabar memilukan menyelimuti Dusun Suruhan, RT 5 RW 2, Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan.
Farell Bastian Alfaruq, 10 tahun, pelajar SDN 2 Sirnoboyo yang dikenal berprestasi dan rajin mengaji, kini terbaring kritis di ruang ICU Rumah Sakit Bethesda, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akibat pendarahan hebat pada otaknya.
Anak keempat dari pasangan Dani dan Sri Suryanti itu selama ini tumbuh dalam keluarga sederhana.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Farell dikenal sebagai anak yang tekun, sopan, dan memiliki semangat belajar tinggi.
Ia tengah mempersiapkan diri mengikuti lomba adzan tingkat kecamatan.
Di balik kesehariannya, bocah ini menyimpan mimpi besar untuk menjadi seorang Hafidz Al-Quran demi membanggakan kedua orang tuanya.
Pamannya, Kusno, menceritakan awal mula peristiwa yang membuat keluarga terpukul itu.
“Pertengahan November lalu, Farell bilang tubuhnya tidak enak dan ingin istirahat. Tidak lama setelah itu, ibunya menemukan dia sudah tidak sadar di kamarnya. Kami semua langsung panik,” ujar Kusno saat ditemui Ketik.com di kediamannya, Jumat, 28 November 2025.
Keluarga segera membawa Farell ke rumah sakit menggunakan ambulans.
Sepanjang perjalanan menuju fasilitas kesehatan, kedua orang tuanya hanya bisa menggenggam tangan anaknya yang terkulai, sambil berdoa agar keselamatan tetap berpihak kepada putra kecil mereka.
Sesampainya di rumah sakit, dokter menyampaikan kondisi serius yang dialami Farell.
Pembuluh darah di otaknya pecah, menyebabkan pendarahan hebat dan kerusakan pada jaringan otak.
“Dokter bilang kondisinya sangat kritis dan harus segera dilakukan operasi. Kami benar-benar tidak siap dengan kabar itu,” tutur Kusno.
Namun, badai belum berhenti bagi keluarga tersebut. Biaya medis menjadi tantangan besar.
Ayah Farell, Dani, sehari-hari bekerja serabutan sebagai buruh tani dan penjual siomay.
Sementara sang ibu, Sri Suryanti, menghidupi keluarga dengan berjualan sandal di pasar.
Penghasilan mereka, yang bahkan sering tak menentu, tidak pernah terbayang mampu menutupi biaya operasi dan perawatan ICU yang mencapai ratusan juta rupiah.
Dalam kondisi terdesak, keluarga terpaksa menjaminkan sertifikat rumah sebagai syarat administrasi agar operasi dapat dilakukan.
“Karena tidak punya biaya, keluarga menjaminkan sertifikat rumah untuk dilakukan operasi di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Biaya pengobatannya sebesar Rp189 juta rupiah,” jelas Kusno.
Keluarga kini menetap sementara di Yogyakarta untuk mendampingi proses pengobatan dan kontrol harian Farell.
"Saat ini proses kontrol. Kemarin dicarikan tempat untuk menginap yang murah berada di pondok pesantren," jelasnya.
Meski begitu, mereka mengakui mengalami kesulitan besar, bukan hanya karena biaya yang sangat tinggi, tetapi juga karena harus meninggalkan pekerjaan demi fokus pada perawatan Farell.
Kusno berharap ada tangan-tangan dermawan yang tergerak membantu meringankan beban keluarga.
Melalui rumah sakit, keluarga Farrel saat ini juga tengah melakukan penggalangan dana via online.
"Kalau biaya pengobatannya tidak tertebus. Konsekuensinya, keluarga harus membayar kekurangannya jika ingin mengambil sertifikatnya," ungkapnya.
Di tengah perjuangan hidup dan mati itu, keluarga hanya bisa berharap akan adanya keajaiban dan dukungan dari masyarakat luas agar Farell bisa kembali pulang dalam keadaan sehat.
“Kami sangat berharap ada orang baik yang mau membantu. Farell anak yang rajin dan punya cita-cita besar. Kami ingin dia selamat. Kami hanya ingin melihat dia bisa pulih kembali,” ucapnya lirih.(*)
