KETIK, PACITAN – Kerusakan dan lumpur di Jalan Sultan Agung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, disebut warga diduga akibat lalu lalang truk tambang bermuatan berat.
Warga setempat, Sutrisno (54), menyebut truk-truk tambang kerap melintas setiap hari, bahkan hingga malam.
Saat hujan turun, material tanah dari lokasi tambang hanyut ke badan jalan dan memperparah kondisi jalan.
“Kalau hujan, lumpur dari tambang kebawa ke jalan. Jadinya licin dan banyak kubangan,” ucapnya kepada Ketik.com, Selasa, 2 Februari 2026.
Meski demikian, warga mengaku tidak berani bertindak jauh karena Jalan Sultan Agung merupakan jalan wewenang kabupaten.
Teguran kepada pihak tambang pun hanya berujung pada pembersihan jalan sementara.
“Ini jalan kabupaten, jadi kami tidak berani macam-macam. Kadang ditegur, baru dibersihkan,” tutur Sutrisno.
Aktivitas truk muatan di Jalan Sultan Agung Pacitan. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)
Ia mengatakan aktivitas pertambangan telah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir, meski sempat terhenti sementara.
“Kurang lebih sudah tiga tahunan, sempat berhenti karena ganti kontraktor,” katanya.
Ia menilai pengawasan dari Pemerintah Kabupaten Pacitan terhadap aktivitas pertambangan tersebut sangat minim.
Hingga kini, warga mengaku belum pernah ada komunikasi langsung maupun langkah nyata dari dinas terkait.
Terkait kompensasi, Sutrisno menyebut bantuan dari pihak tambang hanya berupa pembagian sembako setahun sekali menjelang Lebaran, dengan jumlah terbatas.
“Yang rumahnya dekat tambang dapat tiap bulan. Warga sekitar juga tidak dilibatkan sebagai tenaga kerja,” imbuhnya.
Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk menertibkan aktivitas truk tambang sekaligus memperbaiki Jalan Sultan Agung agar tidak terus membahayakan pengguna jalan.
“Harapannya jalan dibersihkan dan diperbaiki. Kalau hujan, harus ada yang membersihkan supaya tidak membahayakan,” pungkasnya.
Sementara itu, pengendara asal Kecamatan Kebonagung, Rahmawati (30) menilai kerusakan tersebut jalan sangat membahayakan pengguna jalan.
Saat musim kemarau, debu tebal mengepul setiap kali kendaraan melintas, sedangkan saat hujan jalan berubah menjadi licin.
“Setiap lewat situ selalu ada material tebal di jalanan. Kalau hujan licin, adek saya pernah jatuh di situ,” ungkap Rahmawati.
Akhirnya, banyak pengendara memilih melaju pelan demi menghindari risiko kecelakaan.
“Harus hati-hati kalau lewat situ, jalannya parah,” ujarnya.
Pantauan di Jalan Sultan Agung, Krajan, Mentoro, Kecamatan Pacitan, menunjukkan ruas jalan sepanjang kurang lebih 900 meter dipenuhi tanah, lumpur, serta kubangan air.
Aspal di sisi kiri dan kanan jalan tampak tenggelam dan tergerus, sementara sebagian badan jalan menyempit.
Kondisi ini membuat kendaraan harus ekstra hati-hati, terutama saat hujan karena permukaan jalan menjadi licin.
Disana, terdapat dua lokasi sumber aktivitas truk muatan berat. Diantaranya, di Gudang Pupuk PKG dan tambang galian C.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada pihak terkait belum membuahkan hasil karena pihak berwenang belum dapat ditemui.(*)
