Ancam Pelintas! Tiga Tahun Lebih Jalan Sultan Agung Pacitan Berkubang Rusak Parah

2 Februari 2026 16:27 2 Feb 2026 16:27

Thumbnail Ancam Pelintas! Tiga Tahun Lebih Jalan Sultan Agung Pacitan Berkubang Rusak Parah

Kondisi Jalan Sultan Agung, Krajan, Mentoro, Kecamatan Pacitan, dipenuhi lumpur dan tanah sehingga badan jalan menyempit dan membahayakan pengendara, Senin, 2 Februari 2026. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Lebih dari tiga tahun terakhir, Jalan Sultan Agung di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mengalami kerusakan parah dan tak kunjung diperbaiki. 

Jalan kabupaten tersebut berubah bak lintasan berbahaya, dengan debu beterbangan saat kemarau dan kubangan licin mengintai setiap kali hujan turun.

Pantauan tim Ketik.com di Jalan Sultan Agung No.289, Krajan, Mentoro, Kecamatan Pacitan, menunjukkan kondisi jalan yang memprihatinkan. 

Ruas sepanjang kurang lebih 900 meter, mulai dari depan Gudang Pupuk PKG Menadi/Kayen Pacitan B3AI hingga pertigaan menuju Rumah Sakit Umum Medical Mandiri Pacitan, dipenuhi tanah dan lumpur.

Aspal di sisi kiri dan kanan jalan tampak tenggelam akibat genangan air bercampur lumpur. 

Sebagian badan jalan ikut menyempit sehingga menyulitkan kendaraan yang melintas, terutama saat kondisi basah.

Seorang pengendara asal Kecamatan Kebonagung, Rahmawati (30) mengaku, kondisi jalan tersebut sangat membahayakan pengguna jalan.

Ia mengatakan setiap kali kendaraan melintas, debu pekat langsung mengepul dan menyesakkan napas.

“Setiap lewat situ debunya tebal sekali. Kalau hujan licin, adek saya pernah jatuh di situ,” kata Rahmawati.

Ia menambahkan, banyak pengendara memilih melaju pelan demi menghindari terpeleset dan jatuh. “Harus sangat hati-hati kalau lewat situ. Parah rusaknya,” lanjutnya.

Kondisi paling parah dirasakan warga di sekitar Dusun Bangsri, Desa Mentoro, dan Dusun Siwililan, Desa Kayen. Kerusakan jalan dinilai sudah terlalu lama dibiarkan tanpa penanganan serius.

“Kasihan yang di jalan, sering ada kecelakaan gara-gara jalannya rusak,” ungkapnya.

Minim Pengawasan, Kerusakan Diduga Akibat Aktivitas Tambang

Fakta mengungkapkan bahwa kerusakan parah tersebut diduga dipicu oleh aktivitas pertambangan di sekitar lokasi. 

Menurut warga setempat, aktivitas pertambangan tersebut sudah berlangsung sekitar tiga tahun, meski sempat berhenti tak lama.

“Aktivitasnya kurang lebih sudah 3 tahunan, sempat berhenti karena ganti kontraktor,” ujarnya warga RT 1 RW 6 Dusun Siwililan, Desa Kayen, Kecamatan Pacitan, Sutrisno (54).

Foto Aktivitas pertambangan dengan kendaraan berat yang diduga memperparah kerusakan Jalan Sultan Agung di Desa Mentoro dan Kayen, Kecamatan Pacitan, Senin, 2 Februari 2026. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)Aktivitas pertambangan dengan kendaraan berat yang diduga memperparah kerusakan Jalan Sultan Agung di Desa Mentoro dan Kayen, Kecamatan Pacitan, Senin, 2 Februari 2026. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)

Sutrisno menjelaskan, setiap kali hujan turun, material tanah dari lokasi tambang hanyut ke badan jalan dan membuat permukaan jalan menjadi licin serta berlubang. Kondisi ini kerap memicu kecelakaan lalu lintas.

“Apalagi kalau musim hujan. Lumpur tambangnya kebawa ke jalan. Akhirnya banyak kubangan,” katanya kepada Ketik.com.

Meski warga ingin meminta pertanggungjawaban ke pihak penambang, warga setempat memilih menahan diri karena Jalan Sultan Agung merupakan jalan kabupaten.

“Ini kan jalan kabupaten, jadinya kita juga tidak berani ngapa-ngapain, kecuali ini jalan desa. Kadang kalau ditegur, baru dibersihkan jalannya sama karyawan,” tuturnya.

Mereka menilai pengawasan dari Pemerintah Kabupaten Pacitan terhadap aktivitas pertambangan tersebut sangat minim. Menurutnya, belum pernah ada komunikasi atau tindakan langsung dari dinas terkait.

Terkait kompensasi fasilitas publik, Sutrisno menyebut bantuan dari pihak penambang justru berupa sembako yang dibagikan setahun sekali menjelang Lebaran, dengan jumlah terbatas.

"Yang rumahnya dekat tambang tiap bulan dapat. Warga sekitar juga tidak dilibatkan sebagai tenaga kerja. Kalau proyek yang dulu ada komunikasi, yang ini tidak ada," imbuhnya.

Aktivitas pertambangan tersebut disebut berjalan setiap hari, bahkan hingga malam saat ada pekerjaan borongan. Warga berharap segera ada upaya serius untuk perbaikan jalan maupun pembersihan.

“Harapannya yang penting bersih, jalan itu jangan sampai rusak. Kalau musim hujan kan tanahnya ikut, pengennya itu ada orang buat membersihkan saat hujan,” tutup Sutrisno.

Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada dinas terkait belum membuahkan hasil karena pihak berwenang belum dapat ditemui.(*)

Tombol Google News

Tags:

Jalan rusak pacitan Jalan Sultan Agung Desa Mentoro keselamatan pengendara INFRASTRUKTUR