Membaca Arah Angin dan Teka-Teki Internal PPP

11 Maret 2026 17:19 11 Mar 2026 17:19

Thumbnail Membaca Arah Angin dan Teka-Teki Internal PPP

Oleh: Herman Yunus*

Belakangan ini, dinamika di internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memunculkan diskursus serius di kalangan kader dan simpatisan. Muncul sebuah kegelisahan kolektif yang mempertanyakan.

Apakah nakhoda kapal saat ini sedang membawa partai menuju dermaga kebangkitan, atau justru membiarkan kapal ini bocor dari dalam?

Ada beberapa poin krusial yang patut menjadi bahan renungan dan analisis bersama dan mendalam.

Muncul kekhawatiran dari sebagian kalangan bahwa kepemimpinan di bawah Ketum Mardiono seolah membiarkan terjadinya degradasi marwah partai. Secara spekulatif, muncul dugaan di ruang-ruang diskusi bahwa kebijakan yang diambil cenderung kontra produktif terhadap eksistensi PPP ke depan.

Fenomena ini memicu pertanyaan liar. Mungkinkah ada agenda "penitipan" kepentingan luar yang bertujuan melumpuhkan partai dari dalam (sabotage)?

Meski ini baru sebatas dugaan, dampak pelemahan yang dirasakan kader di akar rumput adalah nyata dengan pemecatan paling brutal dalam sejarah perpolitikan ditanah air.

Salah satu titik balik yang memicu kecurigaan kita adalah sikap diam atau "minimalis" dari sang nakohda partai saat itu, menghadapi anomali lonjakan suara partai lain dipemilu 2024 (seperti PSI) di aplikasi Sirekap.

Sikap pasif yang janggal Sebagai partai yang sedang berjuang menembus parliamentary threshold, seharusnya setiap suara dijaga dengan teriakan paling lantang. Namun, sikap santai sang nakoda di awal fenomena tersebut memunculkan spekulasi adanya "pembiaran" yang sistematis.

Menariknya, tren anomali tersebut baru tampak melandai setelah beberapa elit/kader di tingkat pusat mulai "berisik" dan menyuarakan protes. Hal ini menguatkan dugaan bahwa jika bukan karena desakan arus bawah, mungkin sang nakoda akan tetap dalam posisi pasif.

Kejadian-kejadian di atas memaksa kita untuk mengajukan pertanyaan kritis. Apakah PPP sedang "dilubangi" secara perlahan oleh mereka yang seharusnya menambal kebocoran?

Sebagai Ketum, tanggung jawab moral dan politik sepenuhnya berada di pundak beliau. Jika kebijakan yang diambil justru menguntungkan pihak luar dan merugikan internal, dengan fenomena saat ini, maka wajar jika muncul mosi tidak percaya mengenai loyalitas kepemimpinan terhadap keberlangsungan partai.

Ini bukanlah sebuah tindakan memvonis, melainkan rangkaian dugaan yang lahir dari bentuk keprihatian terhadap partai.

Semoga prediksi buruk ini keliru. Namun, sejarah politik seringkali mencatat bahwa kehancuran terbesar sebuah wadah besar jarang datang dari musuh di luar, melainkan dari tangan² yang memegang kendali di dalam namun tidak memiliki hati untuk wadahnya sendiri.

*) Herman Yunus adalah Ketua DPC PPP Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat 

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

ketikers PPP politik& pemerintahan HUKUM pppsulbar herman yunus