KETIK, TUBAN – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menggelar diskusi bertajuk “Ngaji Melek Media” bersama insan pers, Kamis, 5 Maret 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada ini dihadiri oleh para Kepala SPPG atau Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), pengawas gizi, akuntan, mitra yayasan, serta insan media dari wilayah Kecamatan Kerek dan Tuban Kota.
Diskusi tersebut bertujuan membedah pola komunikasi publik terkait Program MBG sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan gizi yang disediakan SPPG bagi para siswa sekolah sebagai penerima manfaat program.
Kepala SPPG Kerek Kedungrejo Satu, Wahyu Bagus Kurniawan, mengatakan kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan yang disajikan kepada penerima manfaat, sekaligus memperkuat komunikasi sosial dengan masyarakat.
“Adanya sinergi Ngaji Melek Media ini bisa memberikan wawasan baru kepada teman-teman SPPI yang bertugas di SPPG,” ujar Wahyu.
Kepala SPPG, pengawas gizi, akuntan dan mitra dapur selesai acara Ngaji Melek Media di kabupaten Tuban, 5 Maret 2026. (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)
Senada dengan itu, Kepala SPPG Kedungrejo Dua, Muhammad Hasby Alifka R., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut juga membahas upaya mitigasi isu yang berkembang di masyarakat, termasuk berbagai kejadian menonjol yang sempat dikaitkan dengan program MBG.
Menurutnya, dalam diskusi tersebut SPPI bersama insan media membahas langkah-langkah penanganan informasi di ruang publik, termasuk strategi crisis management terhadap berbagai isu yang beredar di media sosial.
“Kami butuh dukungan media untuk melaporkan jika ada penyimpangan sekaligus mengedukasi publik mengenai asupan gizi seimbang yang telah diwajibkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN),” ungkap Hasby.
Sementara itu, mitra dapur SPPG Kedungrejo Kerek, Wenny Madena, menyambut baik kolaborasi antara pengelola program MBG dan insan pers tersebut.
Ia berharap kegiatan literasi media seperti “Ngaji Melek Media” dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, dapur operasional yang menjadi bagian dari pelaksanaan program MBG membutuhkan publikasi yang edukatif agar masyarakat memahami proses dan standar pelayanan gizi yang diterapkan.
“Dapur-dapur operasional sangat membutuhkan publikasi yang edukatif,” kata Wenny.
Ia juga berharap kolaborasi antara lembaga pelaksana program MBG dengan insan pers dapat terus terjalin sehingga pelaksanaan program berjalan secara transparan dan akuntabel.
“Harap kami sinergi terus berjalan untuk beriringan menyukseskan program MBG,” tambahnya.
Jurnalis JTV, Zikky Mohammad, yang hadir dalam diskusi tersebut menilai kegiatan literasi digital bagi pengelola SPPG sangat penting untuk memperkuat komunikasi publik.
Ia menilai selama ini insan media kerap mengalami kesulitan mendapatkan narasumber dari lembaga pelaksana program MBG di tingkat daerah, baik di level koordinator wilayah kabupaten maupun kecamatan.
“Inisiasi mitra dapur mengundang insan pers untuk duduk bersama dalam Ngaji Melek Media terkait program MBG sangat kami hargai dan menjadi upaya menyamakan persepsi,” ujarnya.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan pelaksanaan program MBG di Kabupaten Tuban dapat terus meningkat, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas layanan gizi di setiap dapur SPPG.
Selain itu, transparansi penyaluran paket menu bagi sasaran penerima manfaat seperti balita, ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui) juga diharapkan semakin baik.
“Utamanya, sasaran B3, bumil, dan busui dapat lebih baik transparan pada paket menu penyalurannya,” tutup Zikky.(*)
