KETIK, MALANG – Menjelang Hari Raya Idulfitri, jasa porter stasiun biasanya panen rezeki seiring membeludaknya barang bawaan pemudik. Namun, kondisi berbeda justru dirasakan para porter di Stasiun Malang yang masih mengeluhkan sepinya pesanan pada awal Maret 2026 ini.
Salah satu porter senior, Zaenal (63), mengungkapkan hingga pekan ini belum terlihat adanya lonjakan penumpang mudik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penghasilannya yang merosot tajam.
"Kalau puasa seperti ini masih sepi dan belum terlihat adanya penumpang yang melaksanakan mudik," ujarnya kepada Ketik.com, Rabu, 11 Maret 2026.
Sejak awal Ramadan hingga saat ini, bapak dua anak tersebut mengaku baru melayani tiga penumpang dengan total pendapatan di kisaran Rp100 ribu.
Sebagai informasi, biaya jasa angkat barang lewat porter di Stasiun Malang telah diatur sebesar Rp38 ribu per pengangkatan.
Untuk menyambung hidup di tengah sepinya tarikan, Zaenal terpaksa memutar otak dengan mengandalkan simpanan lama.
"Ya harus dicukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk menyiasati, biasanya uang tabungan yang dipakai dulu," tambahnya.
Uang tabungan tersebut dikumpulkannya saat masa puncak kunjungan (high season), seperti libur akhir tahun atau masa Lebaran tahun sebelumnya. Berdasarkan pengalamannya, kepadatan arus mudik di stasiun biasanya baru akan terasa pada H-5 Lebaran.
"Kalau tahun lalu itu, saya full dari pagi sampai sore. Pasti capek tapi sukanya dapat uang banyak," jujurnya.
Meski usianya sudah tidak muda lagi, ia tetap bekerja untuk keluarga dan cucunya. Walaupun bayaran tidak menentu, ia percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.
"Menurut saya, ini pekerjaan yang penuh berkah. Karena ini kan sifatnya membantu orang, jadi berkah rezekinya," pungkasnya. (*)
