KETIK, SITUBONDO – Anak dan remaja dengan disabilitas (Children and Youth with Disabilities/CYWD), termasuk penyandang disabilitas terdampak kusta dan down syndrome, merupakan bagian penting dari populasi yang memiliki hak setara untuk memperoleh layanan dasar, perlindungan, serta kesempatan berkembang secara optimal.
"Stigma dan miskonsepsi yang melekat pada kusta kerap menimbulkan diskriminasi berlapis, sehingga menghambat mereka dalam memperoleh layanan kesehatan serta dukungan psikososial yang memadai," kata Ketua Yayasan Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo, Luluk Ariyantiny saat memberikan materi di Room Jasmien Hotel Rosali Situbondo, Selasa, 13 Januari 2026.
Sementara itu, lanjut Luluk Ariyantiny, anak dan remaja dengan down syndrome masih menghadapi keterbatasan layanan pendidikan inklusif, minimnya tenaga pendidik terlatih, serta kurangnya fasilitas pendukung yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Luluk Ariyantiny selaku Ketua PPDiS menyebut Liliane Fonds dan NLR Indonesia menginisiasi program Building Effective Network (BEN) sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem layanan inklusif bagi anak dan remaja disabilitas, termasuk yang terdampak kusta dan down syndrome.
"Program ini bertujuan membangun jaringan kolaborasi yang efektif antara organisasi lokal, pemerintah daerah, penyedia layanan, dan komunitas, sehingga menciptakan sistem pendukung yang lebih responsif, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Sebagai mitra lokal, PPDiS mengajak seluruh pihak terkait untuk hadir pada kegiatan Pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) Program BEN ini," jelas Luluk Ariyantiny.
Pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) dalam Program Building Effective Network (BEN) ini, lanjut Mbak Luluk—sapaan akrab Luluk Ariyantiny—dinilai sangat penting untuk memperkuat kebersamaan dalam membangun ekosistem layanan inklusif bagi anak dan remaja disabilitas, termasuk yang terdampak kusta dan down syndrome.
Tak hanya itu, Ketua Yayasan Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo, Luluk Ariyantiny, menegaskan pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) dalam Program Building Effective Network (BEN) ditujukan untuk menjalankan program utama bagi anak dan kaum muda disabilitas, termasuk mereka yang terdampak kusta dan down syndrome yang tinggal di pedesaan atau wilayah termiskin.
Selain itu, perhatian juga diberikan kepada anak perempuan dan perempuan disabilitas, kaum muda dengan hambatan pendidikan serta kebutuhan kesehatan khusus terkait kesehatan seksual dan reproduksi (SRHR), anak disabilitas terdampak perubahan iklim dan bencana alam, dengan pendekatan program yang tidak hanya needs based (berbasis bantuan), tetapi juga rights-based (berbasis hak) guna memastikan inklusi, perlindungan, dan pemberdayaan yang lebih adil di masyarakat.
"Menggunakan kekuatan rehabilitas berbasis masyarakat (RBM) ini, sebuah gerakan kolaboratif untuk memperkuat jejaring inklusi bagi anak dan remaja disabilitas, termasuk mereka yang terdampak kusta di berbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Situbondo, maka Pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) Program Building Effective Network (BEN) sangat penting," jelas Ketua PPDiS, Luluk Ariyantiny ketika menjelaskan Pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) Program Building Effective Network (BEN) di hadapan peserta.
Sekadar diketahui, pembentukan Sub-Cluster Coordination Network (SCN) dalam Program Building Effective Network (BEN) ini dihadiri perwakilan pers, TP PKK, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, Dinas Sosial, Bapperinda, DP3AP2KB, Dinas Kesehatan, pihak kecamatan, serta pemangku kepentingan terkait lainnya. (*)
