KETIK, YOGYAKARTA – Malam pergantian tahun di Yogyakarta tak lagi sekadar soal kembang api dan tiupan terompet. Hingga jarum jam melintasi angka tengah malam pada Kamis, 1 Januari 2026, suasana di jantung kota tetap terjaga dalam harmoni. Meski diperkirakan 436 ribu orang tumpah ruah ke jalanan, Yogyakarta menunjukkan wajah yang lebih dewasa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kapolda DIY, Irjen Pol Anggoro Sukartono SIK, yang memantau langsung dari Pos Terpadu Teteg Malioboro bersama unsur Forkompimda DIY, Walikota Yogyakarta serta instansi terkait menyebutkan bahwa ketertiban ini merupakan buah dari kesadaran kolektif.
"Kepatuhan masyarakat dalam menjaga ketertiban di ruang publik dan mengikuti imbauan petugas di lapangan menjadi kunci utama suksesnya perayaan tahun baru tahun ini. Saya sangat berterima kasih atas partisipasi dan kerjasamanya," ujar Irjen Pol Anggoro di tengah keriuhan massa yang mulai mencair.
Situasi ini kontras dengan catatan tahun lalu, di mana penumpukan massa di titik-titik krusial sempat memicu gesekan kecil dan kemacetan panjang yang sulit terurai hingga menjelang subuh. Tahun ini, kepolisian mencatat penurunan angka kriminalitas jalanan dan kecelakaan lalu lintas yang signifikan di malam pergantian tahun. Kapolda DIY menegaskan bahwa keberhasilan kali ini diukur dari kenyamanan warga.
Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono memimpin langsung pengamanan malam pergantian tahun 2026 di Yogyakarta. Dengan dukungan teknologi dan kesadaran masyarakat yang tinggi, suasana ikonik Malioboro tetap terjaga harmoni tanpa euforia berlebihan. (Foto: Bidhumas Polda DIY for Ketik.com)
"Ukuran keberhasilan operasi tahun ini adalah dapat terurainya titik-titik kemacetan dan tidak adanya kasus kecelakaan menonjol meskipun volume kendaraan meningkat," tegas Irjen Pol Anggoro Sukartono.
Di balik ketenangan itu, ada orkestrasi teknologi yang bekerja dalam senyap. Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menjelaskan bahwa sebanyak 3.813 personel didukung oleh armada drone dan optimalisasi CCTV untuk memantau pergerakan massa secara real-time.
"Fokus utama kami adalah bagaimana menghadirkan personel semaksimal mungkin di lapangan dengan dibantu penggunaan teknologi, khususnya di titik-titik keramaian yang menjadi ikon perayaan," kata Kombes Pol Ihsan.
Jajaran Forkopimda DIY memantau situasi titik-titik keramaian di seluruh wilayah Yogyakarta melalui layar monitor digital. Penggunaan teknologi ini mempermudah petugas dalam mengurai kemacetan secara real-time. (Foto: Bidhumas Polda DIY for Ketik.com)
Berbeda dengan perayaan tahun lalu yang penuh euforia ledakan petasan, tahun ini Yogyakarta tampak lebih menahan diri. Ada suasana empati yang kuat bagi wilayah lain yang tengah didera bencana alam. Hal ini tecermin dari minimnya penggunaan petasan berdaya ledak tinggi di sepanjang Jalan Margomulyo hingga Titik Nol Kilometer. Kombes Ihsan menambahkan bahwa kehadiran pimpinan tertinggi di lapangan juga memberikan dampak psikologis bagi petugas.
"Kehadiran beliau sangat memotivasi personel untuk bekerja lebih semangat dan melayani," tuturnya.
Keberhasilan kolaborasi antara TNI, Polri, dan unsur warga seperti Jaga Warga dalam mengamankan 116 gereja dan 88 lokasi perayaan membuktikan bahwa Yogyakarta tetap mampu mengelola keramaian tanpa harus kehilangan rasa aman. Ketika kota-kota besar lain mungkin masih berkutat dengan residu keramaian yang kacau, Yogyakarta menutup lembaran 2025 dengan sebuah pernyataan: bahwa kemeriahan bisa berjalan beriringan dengan kesantunan. (*)
