KETIK, MADIUN – Megengan merupakan tradisi masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan doa bersama, tahlilan, ziarah kubur dan berbagi makanan (terutama kue apem) sebagai simbol permohonan maaf dan syukur. Tradisi itu bertujuan sebagai bentuk syukur, mendoakan leluhur, serta mempererat silaturahmi menjelang ramadan.
Seperti yang diadakan di Masjid Salafiyah Tuk Buntung Kota Madiun, menyambut datangnya bulan suci ramadan 1447 H atau tahun 2026 M. Kali ini, di masjid tua yang penuh akan sejarah itu juga digelar tradisi megengan pada Selasa, 17 Februari 2026.
Tradisi megengan di Masjid Salafiyah itu adalah tradisi rutin yang selalu dilestarikan dari tahun ke tahun. Ketua Takmir Masjid Salafiyah Tuk Buntung, KH. Romdhon Eko mengatakan bahwa megengan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.
"Megengan salah satu tradisi yang perlu di lestarikan. Karena dalam acara megengan tersebut mengandung makna selamatan dan tasyakuran. Selamat dalam hal ini adalah mendoakan para arwah leluhur dan tasyakuran dalam hal ini kita bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan bulan suci ramadan," ujarnya.
"Dalam kitab Durotun Nasihin di terangkan bahwa 'barang siapa yang bersuka cita atas kedatangan bulan ramadan, maka akan di bukakan pintu surga baginya', wallahu alam," tambah dia.
Acara juga dilaksanakan secara sederhana, dimulai dari tahlil, kirim doa leluhur dilanjutkan makan berkat bersama seusai pembacaan doa.
Kegiatan megengan di Masjid Salafiyah Tuk Buntung itu berjalan secara hangat. Jemaah yang mayoritas merupakan warga sekitar masjid, mengikuti acara megengan itu secara khidmat hingga acara berakhir. (*)
