KETIK, TUBAN – Yayasan elite menu sulit istilah ini pantas disematkan bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) satu ini yang menyalurkan menu makan kepada penerima manfaat progam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Wali murid mengeluhkan menu MBG yang diolah dan diproduksi SPPG Kayen Bancar bernaung di Yayasan Kemala Bhayangkari.
Orang tua menilai menu yang disajikan dapur bagi penerima manfaat disajikan asal - asalan. Keluh kesah kualitas menu MBG ramai dibuat status dan menjadi percakapan WhatsApp. Bahkan, para orang tua membandingkan menu sajian dengan berbagai sumber SPPG yang telah beroperasi.
"Emang kalau pas hari apa gitu menunya tak layak. Tak mengundang selera makan anak didik," ungkap seorang guru berinisial E kepada Ketik.com, Jumat 13 Februari 2026.
Menu paket kering terbungkus kantong keresek untuk penerima manfaat 3B di SPPG Wanglukulon Senori Tuban, Jumat 13 Februari 2026 (Foto: Ahmad Istihar/Ketik.com)
Kepala SPPG Kayen Bancar, Bayu, membenarkan adanya keluhan orang tua pada Kamis 12 Febuari 2026 kemarin. Dan kini telah dilakukan perbaikan.
“Ya mas, itu kelalaian di bagian pemorsian dan sudah saya tegur. Ke depannya bisa lebih baik lagi,” ucapnya.
Danramil 0811/12 Bancar, Kapten Arm A. Ghofar, terkait polemik tersebut menyampaikan bahwa persoalan sudah dimediasi dan akan dilakukan pengecekan lanjutan.
"Alhamdulillah sudah dimediasi dan sudah diperbaiki pihak MBG , kita masih mantau pihak MBG-nya," ungkapnya.
Selain itu, tambah Kapten Ghofar pihaknya juga telah mengkomunikasikan serta menhimbau kepada pengelola dapur agar ke depan lebih baik lagi dalam pelayanan termasuk varian menu yang dibagikan ke penerima manfaat.
"Semoga tidak terjadi lagi," harap dia kepada pelayanan SPPG Kayen Bancar.
Di tempat terpisah, Kecamatan Senori, spekulasi liar muncul dikalangan ibu-ibu selaku penerima manfaat progam MBG katagori 3B (Ibu menyusui, hamil dan Balita), yang biasa diperoleh seminggu sekali atau 6 hari dalam satu paket lengkap rapelan untuk memenuhi asupan gizi 3B tersebut.
Lucunya, menu paket yang dikirim SPPG Wanglukulon, sangat sederhana berupa berupa 3 buah pir, 5 telur asin, 2 bungkus bubur kacang hijau dan bubur merah ditambah susu produk perusahan ukuran 1000 ml.
"Kok sederhana banget ya menunya. Beda jauh sama dapur di Tuban kota. Menarik bugkusnya pakai totebag," ungkap seorang ibu menyusui kepada media Ketik.com.
Berbeda yang dia dapat pada penerimaan paket 3B dari SPPG Wanglukulon, paket MBG dibungkus menggunakan kantong plastik keresek berwarna hijau tanpa ada tulisan, logo sebagai tanda progam Nasional pada umumnya loggo BGN.
Selain tanpa adanya logo, ungkap ibu rumah tangga ini, kondisi kantong kresek berwarna hijau tanpa dicap alamat dapur SPPG sebagai satuan layanan pendistribusian.
"Ya, ini mirip paket bingkisan. Petugas datang ke rumah, juga ada penerima manfaat mengambil langsung ke rumah kader posyandu. Kalau tampilan seperti ini mirip habis kondangan," canda ibu 1 anak tersebut. (*)
