KETIK, YOGYAKARTA – Jalan aspal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta selama dua pekan pertama Februari 2026 menjadi saksi bisu dari sebuah upaya kepolisian untuk menjinakkan kengerian di jalan raya.
Operasi Keselamatan Progo 2026 yang digelar sejak 2 hingga 15 Februari lalu akhirnya menutup tirai dengan sebuah catatan yang memberikan angin segar bagi publik: kesadaran kolektif warga perlahan mulai terbentuk, meski bayang-bayang fatalitas belum sepenuhnya sirna.
Hasil Analisa dan Evaluasi (Anev) yang dirilis Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan sebuah paradoks yang menarik dalam budaya berkendara masyarakat.
Di satu sisi, grafik pelanggaran terjun bebas secara drastis. Penindakan tilang melandai hingga 67 persen, dari semula ribuan pelanggar pada tahun lalu kini menyusut menjadi ratusan saja.
Angka teguran pun turut menciut, menandakan bahwa interaksi tegang antara peluit petugas dan pengendara di lampu merah mulai digantikan oleh kepatuhan yang lebih mandiri.
Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan,melihat fenomena ini bukan sekadar keberhasilan teknis kepolisian di lapangan, melainkan cermin dari efektifitas edukasi yang kian masif.
Menurutnya, penurunan angka pelanggaran yang signifikan tersebut adalah indikator kuat bahwa masyarakat mulai memahami bahwa keselamatan bukan lagi soal menghindari denda, melainkan menjaga nyawa.
"Keberhasilan menekan angka kejadian kecelakaan dan pelanggaran ini mencerminkan efektifitas personel di lapangan serta meningkatnya kepatuhan masyarakat," ujar Kombes Pol Ihsan, Selasa 17 Februari 2026.
"Kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas jatuhnya korban jiwa di wilayah Sleman, dan hal ini memacu kami untuk lebih masif lagi dalam memberikan edukasi serta pengawasan di lapangan," sambungnya.
Namun, di balik optimisme penurunan kuantitas kecelakaan dari 132 menjadi 129 kasus, terselip duka yang menjadi evaluasi mendalam bagi Korps Bhayangkara.
Wilayah hukum Polresta Sleman mencatatkan rapor merah dengan tiga nyawa yang melayang di jalan raya. Tragedi di Sleman ini menjadi pengingat pahit bahwa seribu sosialisasi bisa saja kalah oleh satu detik kelalaian.
Hal inilah yang kemudian memicu Polda DIY untuk menggeser fokus patroli dan pengawasan lebih ketat ke titik-titik rawan di wilayah penyangga kota tersebut.
Polda DIY sendiri memilih jalan panjang dalam mendisiplinkan warga. Alih-alih mengandalkan surat tilang, mereka melipatgandakan kegiatan preemtif dan preventif. Ribuan penyuluhan disebar ke sekolah-sekolah, kampus, hingga media sosial, menciptakan dialog yang lebih cair dengan generasi muda yang kerap mendominasi angka kecelakaan.
Strategi Police Goes to Campus dan penguatan satuan tugas preemtif menjadi tulang punggung dalam membangun ekosistem jalan raya yang lebih beradab menjelang momentum mudik Lebaran Idul Fitri 1447 H.
Keberhasilan menekan angka fatalitas hingga sempat menyentuh angka nol pada pertengahan operasi menunjukkan bahwa skenario "Zero Accident" bukanlah hilal yang mustahil untuk digapai.
Dengan peningkatan dukungan bantuan operasi yang melonjak drastis, kepolisian mencoba memastikan bahwa setiap jengkal jalanan di DIY memiliki pengawasan yang memadai.
Harapannya, kedisiplinan yang terbangun selama dua pekan operasi ini tidak menguap begitu saja saat spanduk operasi diturunkan, melainkan menetap menjadi budaya baru di tengah riuh rendah lalu lintas Yogyakarta.
Meskipun secara resmi Operasi Keselamatan Progo 2026 telah berakhir pada 15 Februari, situasi lalu lintas hingga Selasa 17 Februari 2026, terpantau kondusif dan menunjukkan kecenderungan tingkat kepatuhan yang konsisten.
Polda DIY menegaskan bahwa upaya pemeliharaan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas) akan tetap dilanjutkan melalui patroli rutin harian untuk mempertahankan tren positif tersebut.(*)
