KETIK, YOGYAKARTA – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, terus memacu program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) melalui skema kolaborasi lintas sektor.
Pada Minggu, 15 Februari 2026, Hasto meninjau langsung renovasi tiga unit rumah sekaligus di kawasan padat penduduk, yakni di Kampung Tukangan, Kemantren Danurejan, dan Kampung Miliran, Kemantren Umbulharjo.
Langkah ini merupakan bagian dari target Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menuntaskan renovasi sedikitnya 200 unit RTLH sepanjang tahun 2026.
Hasto menegaskan bahwa pembenahan hunian warga tidak bisa hanya mengandalkan kantong APBD, melainkan harus melibatkan peran aktif sektor swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam aksi teranyar ini, Pemkot Yogyakarta menggandeng Rumah Zakat dan Pamela Syawalan. Kedua lembaga tersebut mengucurkan dana stimulan masing-masing sebesar Rp20 juta per unit rumah.
Dana tersebut dialokasikan untuk perbaikan struktur vital yang mencakup atap, dinding, lantai, hingga penyediaan fasilitas sanitasi dasar yang selama ini menjadi kendala utama kesehatan warga.
Dua rumah di Kampung Tukangan yang direnovasi adalah milik Rachmat Indrawanto dan Hery Cahyadi, sementara satu rumah lainnya berada di Kampung Miliran. Ketiganya masuk dalam kategori tidak layak karena kerentanan struktur bangunan dan sanitasi yang buruk.
"Rumah adalah kebutuhan pokok. Jika huniannya tidak layak, maka akan berdampak domino pada kualitas kesehatan dan produktivitas penghuninya," ujar Hasto di sela peninjauan.
Hasto menjelaskan bahwa fokus perbaikan pada tahun 2026 akan menyasar wilayah-wilayah dengan tingkat kepadatan tinggi dan kawasan kumuh. Ia meyakini, dengan hunian yang lebih sehat, angka penyakit berbasis lingkungan dan risiko stunting di Yogyakarta dapat ditekan secara signifikan.
"Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan perusahaan swasta dan komunitas seperti ini sangat penting untuk mempercepat penanganan persoalan perumahan," katanya lagi.
Rachmat Indrawanto, salah satu penerima manfaat, menyampaikan rasa syukurnya atas program ini. Ia mengaku kondisi rumahnya sebelumnya sangat memprihatinkan, terutama saat musim hujan. "Dulu sering bocor parah dan dindingnya sudah lapuk. Dengan bantuan ini, rumah saya sekarang jauh lebih aman dan layak ditinggali," tuturnya.
Pemkot Yogyakarta mencatat, pencapaian target 200 rumah tahun ini akan sangat bergantung pada konsistensi dukungan mitra CSR dan swadaya masyarakat setempat dalam proses pembangunannya. (*)
