KETIK, SLEMAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menciptakan ekosistem yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga inklusif dan sehat bagi seluruh civitas akademika.
Komitmen tersebut disampaikan dalam diskusi panel bertajuk "Mewujudkan Kampus Inklusif untuk Semua: Belajar Tanpa Batas Sukses Tanpa Akhir" yang diselenggarakan oleh DPP Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman dr Seruni Angreni Susila, MPH, memaparkan urgensi program advokasi Kampus Sehat. Dalam penjelasannya, dr Seruni menekankan bahwa institusi pendidikan tinggi memegang peran vital dalam membangun sumber daya manusia yang produktif melalui penciptaan ruang sosial yang mampu membentuk pola hidup sehat bagi generasi muda sejak dini.
Landasan Regulasi dan Pilar Strategis
Landasan regulasi program ini kini semakin kuat dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2025 serta Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025. Peraturan tersebut mengamanatkan perguruan tinggi untuk mengintegrasikan aspek keamanan, kesejahteraan sivitas, hingga penyediaan sarana prasarana yang ramah terhadap penyandang disabilitas ke dalam rencana strategis kampus.
Visi besar dari program ini adalah menjadikan kampus sebagai ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan kesehatan ke dalam aspek operasional, akademik, hingga budaya. Hal tersebut mencakup penguatan tata kelola melalui kebijakan kampus sehat, pengembangan budaya hidup bersih tanpa rokok, serta penyediaan layanan kesehatan dan konseling yang inklusif.
Selain itu, aspek infrastruktur hijau dan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan turut menjadi indikator penting dalam penilaian keberhasilan sebuah institusi.
Kawasan Nol Toleransi
Lebih jauh, dr Seruni juga menyoroti penerapan kawasan nol toleransi terhadap berbagai perilaku negatif seperti peredaran narkoba, perjudian, hingga segala bentuk kekerasan dan perundungan.
Melalui kemitraan yang erat antara pemerintah dan organisasi alumni seperti Ikahum Atma Jogja, diharapkan setiap kampus mampu menciptakan sistem pelaporan digital yang terintegrasi serta mendorong partisipasi aktif mahasiswa dalam gerakan promosi kesehatan secara berkelanjutan.
Upaya ini mencakup kegiatan sosial seperti donor darah hingga kampanye lingkungan kampus hijau secara konsisten. (*)
