KETIK, SURABAYA – Indonesia mencatat 62 kasus Influenza A subclade K, varian yang belakangan dikenal dengan sebutan superflu. Temuan ini menempatkan kewaspadaan kesehatan masyarakat sebagai hal mendesak, meskipun varian tersebut sejauh ini belum menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman. Kasus terbanyak dilaporkan berasal dari Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS), Influenza A subclade K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dan terus ditemukan hingga Desember 2025. Perhatian publik meningkat setelah dilaporkan satu pasien meninggal dunia di RS Hasan Sadikin Bandung usai terinfeksi virus tersebut.
Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Prof. dr. Tri Wibawa, menjelaskan bahwa varian subclade K memang memiliki perbedaan genetik dibandingkan virus influenza yang sebelumnya beredar. Namun, secara garis besar virus ini masih berkerabat dekat dengan influenza musiman yang umum menyerang masyarakat.
“Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” ujar Tri seperti dikutip dari laman resmi UGM, Sabtu, 17 Januari 2026.
Tri menegaskan istilah superflu bukan istilah ilmiah dan tidak serta-merta menandakan virus ini lebih ganas. Hingga kini, belum ditemukan bukti bahwa Influenza A subclade K lebih virulen dibandingkan virus influenza H3N2 yang selama ini beredar luas.
Meski demikian, ia menekankan bahwa kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama karena influenza dapat menimbulkan dampak serius pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.
Tri menjelaskan bahwa virus influenza secara alami terus mengalami perubahan karena materi genetiknya berupa RNA. Perubahan genetik kecil dapat memunculkan varian baru yang masih berkerabat dekat, namun dalam kondisi tertentu berpotensi memengaruhi kemampuan sistem kekebalan tubuh manusia.
“Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” jelasnya.
Dalam konteks kewaspadaan kesehatan masyarakat, Tri mengimbau masyarakat untuk disiplin menerapkan langkah pencegahan dasar. Ia menekankan pentingnya etika batuk dan bersin, penggunaan masker saat mengalami gejala flu, rutin mencuci tangan, menjaga waktu istirahat, serta memastikan sirkulasi udara di dalam ruangan tetap baik.
Ia juga mengingatkan bahwa vaksinasi influenza tetap menjadi langkah penting, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi, sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat.
“Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” pungkas Tri. (*)
