KETIK, MALANG – Arus internasionalisasi pendidikan kedokteran di Indonesia semakin terasa. Di Malang, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) mencatat langkah progresif dengan menerima mahasiswa asing di berbagai program studi pada tahun 2025.
Kehadiran mahasiswa dari Malaysia, Bangladesh, Turkmenistan, Tunisia, hingga Timor Leste menjadi sinyal bahwa FKUB kian diperhitungkan di level global.
Bukan sekadar menerima mahasiswa luar negeri, langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi institusi dalam peta pendidikan kedokteran internasional.
Pada 2025, FKUB membuka akses bagi mahasiswa internasional di sejumlah program unggulan. Mereka menempuh pendidikan di Program Magister Ilmu Biomedik, Program Magister Kebidanan, Program Sarjana Kedokteran kelas reguler, serta Program Sarjana Kedokteran kelas International Undergraduate Program (IUP).
Masuknya mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan daya tarik FKUB tidak lagi terbatas pada lingkup nasional. Program magister difokuskan pada pengembangan ilmu biomedis, kesehatan maternal, dan riset berbasis translasi.
Sementara itu, jenjang sarjana menawarkan sistem pembelajaran adaptif, termasuk kelas IUP dengan kurikulum berstandar internasional dan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Dengan dukungan fasilitas akademik dan klinik yang memadai, FKUB berupaya memastikan mahasiswa asing mendapatkan pengalaman belajar yang kompetitif dan setara dengan standar global.
Langkah penerimaan mahasiswa asing ini selaras dengan visi besar FKUB dalam memperluas jejaring dan reputasi internasional.
Dekan Fakultas Kedokteran, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si Med, Sp. A (K), menegaskan bahwa strategi ini bukan kebijakan sesaat, melainkan bagian dari pengembangan institusi.
“Pimpinan FK berkomitmen penuh untuk mendorong internasionalisasi melalui peningkatan proporsi mahasiswa asing di berbagai program studi. Hal ini tidak hanya penting untuk meningkatkan reputasi dan pemeringkatan internasional, tetapi juga untuk membangun ekosistem akademik yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi global,” katanya.
Kehadiran mahasiswa asing dinilai mampu memperkaya dinamika pembelajaran di kelas. Pertukaran perspektif lintas budaya diyakini dapat meningkatkan kualitas diskusi akademik, memperluas cara pandang mahasiswa lokal, serta memperkuat kolaborasi riset berbasis internasional.
Tidak berhenti pada proses penerimaan, FKUB juga memperkuat dukungan bagi mahasiswa internasional. Sistem seleksi yang transparan, layanan administrasi ramah internasional, hingga pendampingan akademik selama masa studi menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan inklusif.
Selain itu, FKUB aktif menjalin kerja sama dengan berbagai institusi luar negeri. Mitra kerja sama berasal dari sejumlah negara seperti Malaysia, Jepang, Taiwan, Thailand, Inggris, hingga Belanda. Kolaborasi ini mencakup pengembangan riset, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta perluasan mobilitas akademik.
Strategi tersebut diharapkan mampu mendorong kontribusi FKUB dalam pemeringkatan internasional sekaligus memperkuat reputasi Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi berdaya saing global.
Dengan semakin terbukanya akses bagi mahasiswa asing, FKUB tidak hanya membangun citra internasional, tetapi juga menyiapkan lulusan yang memiliki perspektif global. Interaksi lintas budaya dan kolaborasi akademik internasional diyakini akan membentuk kompetensi profesional yang lebih adaptif terhadap tantangan kesehatan dunia.
Melalui strategi internasionalisasi yang terukur, FKUB menargetkan kontribusi lebih besar dalam pengembangan ilmu kedokteran dan kesehatan di tingkat global.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai negara pun menjadi bukti bahwa Malang kini bukan hanya tujuan pendidikan nasional, tetapi juga destinasi studi kedokteran yang diminati mahasiswa dunia. (*)
