Isi Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz Bahas Empat Spirit Mengelola Waktu

8 Januari 2026 19:59 8 Jan 2026 19:59

Thumbnail Isi Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz Bahas Empat Spirit Mengelola Waktu

Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Prof Dr KH Moh Ali Aziz MAg saat mengisi Kajian Rabu Senja Al-Yasmin di Ballroom Al-Yasmin Surabaya, Rabu, 7 Januari 2026. (Foto: Al-Yasmin for Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Kajian Rabu Senja Al-Yasmin episode perdana digelar di Ballroom Al-Yasmin Surabaya, Rabu, 7 Januari 2026.

Sesi tersebut diisi Pembina Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Prof Dr KH Moh Ali Aziz MAg, mengulas makna mendalam Surat Al-'Ashr sebagai pedoman mengisi waktu.

Dalam kajian bertema 'Menyongsong Esok Hari dengan Spirit Wal Ashri' itu, Prof Ali Aziz menjelaskan bahwa Surat Al-'Ashr memiliki keistimewaan karena diawali dengan sumpah Allah tentang waktu.

"Wal Ashri itu surat favorit, sama dengan surat pendek lainnya dalam Al-Qur'an, namun Wal-Ashri itu menarik, karena surat yang dimulai dengan Sumpah Allah. Wal Ashri, demi waktu, kenapa Allah bersumpah "demi waktu?"," kata Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tersebut.

Di hadapan puluhan Bunda Muslimah Perkotaan, Prof Ali Aziz menguraikan bahwa sumpah Allah atas waktu merupakan pengingat bahwa usia manusia di dunia sangat terbatas, sementara kehidupan akhirat jauh lebih panjang dan perlu dipersiapkan sejak dini.

"Allah bersumpah dengan waktu itu karena budaya di Arab itu kalau waktu Asar atau senja itu masyarakat banyak ngobrol dan berkumpul dengan banyak orang. Ada yang sukses, sehingga menilai hari ini sebagai waktu yang baik sekali, sedang orang yang gagal menilai hari ini sebagai waktu yang sial. Nah, Allah pun bersumpah, demi waktu, bahwa waktu sial dan waktu baik itu nggak ada," katanya.

Dalam QS "Al-Ashr" itu, Allah dalam sumpahnya pada Surat "Al-Ashri" itu menyatakan sesungguhnya semua manusia itu akan rugi/kecewa/menderita, kecuali orang yang menggunakan waktunya dengan benar.

"Bunda termasuk menggunakan waktu dengan benar, dengan mengaji atau bekerja, maka itu ibadah. Insya-Allah bunda nggak akan kecewa di kemudian hari, karena menggunakan waktu dengan baik dan nilainya ibadah, sedang di sana ada orang menggunakan waktu untuk maksiat," katanya.

Selain mengaji dan bekerja sebagai upaya menggunakan waktu dengan benar dan bernilai ibadah, maka memasak untuk anak bisa sekolah dan suami bisa semangat bekerja juga menggunakan waktu dengan benar.

Bahkan, imbuhnya, bakar jagung pada tahun baru juga bernilai ibadah, karena kegiatan itu bisa membuat anak-anak tidak ikut adu balapan liar atau pesta seks tahun baru, sehingga bakar jagung itu menjauhkan anak-anak dari dosa. 

"Bakar jagung yang kelihatannya biasa itu menggunakan waktu dengan benar karena menjauhkan orang dari dosa dan bermakna ibadah," 

Ia melanjutkan, orang sukses itu punya jatah waktu 24 jam, dan orang gagal juga sama jatah waktunya 24 jam.

"Orang kaya juga diberi jatah waktu 24 jam, jadi orang masuk surga dan neraka itu punya jatah waktu yang sama dalam kehidupan yakni 24 jam," katanya.

Empat Spirit Waktu

Saat mengupas QS Al 'Ashr lebih mendalam, Prof Ali Azis memaparkan bahwa surat pendek Al 'Ash itu memastikan bahwa manusia itu menyesal/rugi/kecewa, kecuali orang yang mengisi waktu dengan empat spirit yakni beriman, berbuat baik/saleh, mengajak orang dalam kebenaran (menasehati), dan mengajak orang dalam kesabaran (dinasehati).

"Kalimat 'kecuali orang yang beriman' itu menunjukkan bahwa hari esok adalah akhirat. Dunia itu penting, karena menentukan nasib kita di akhirat kelak, tapi akhirat itu lebih penting. Kalau dunia dan akhirat itu sama-sama penting berarti dunia dan akhirat itu sejajar, padahal waktu di dunia itu lebih pendek," katanya.

Prof Ali Azis mengumpamakan iman sebagai cahaya, yang merupakan spirit penggunaan waktu terbaik.

"Orang optimis itu menyalakan cahaya di tengah kegelapan, sedang orang pesimis itu mematikan kerlip cahaya, jadi iman itu merupakan cahaya yang melahirkan orang optimis atau pesimis," katanya.

Apakah iman itu cukup?

"Nggak cukup," jawabnya.

"Al 'Ashr melengkapi 'amanu' (iman) dengan spirit 'wa amilus sholihati' yang berarti melakukan kebaikan/saleh. Jadi, Islam itu bukan agama kebatinan yang hanya beriman tapi juga berbuat/gerak melakukan 'amilus sholihati' (perbuatan baik). Jadi, Islam itu iman atau barokah tapi juga harokah/berbuat," katanya.

Setelah iman dan berbuat baik, spirit ketiga dalam Surat Al 'Ashr adalah mengajak orang dalam kebenaran/kebaikan.

"Jadi jangan hanya iman dan baik untuk diri sendiri, tapi harus menjadi orang lain juga baik seperti dirinya," pintanya.

Spirit keempat, selain mengajak orang dalam kebenaran/ kebaikan (menasehati), maka juga harus mengajak orang dalam kesabaran (dinasehati).

"Jadi, jangan hanya menasehati, mengkritik, dan memberi masukan, tapi juga mau dinasehati, dikritik, dan diberi masukan, karena itu harus sabar, jangan mudah marah," katanya.

Prof Ali Azis menambahkan spirit yang diajarkan Surat Al 'Ashr itu dinilai Imam Syafii sebagai surat yang sangat sempurna.

"Menjadi baik dalam Al 'Ashr itu bukan simbol, karena menadi orang yang baik itu bukan hanya memberi masukan, tapi juga orang yang bisa menerima masukan. Kalau orang lain itu hanya memuji justru berbahaya bagi kita. Kritik dari orang lain itu perbaikan diri kita yang caranya dikirim Allah melalui orang lain," katanya.

Bahkan, Raja Fir'aun yang paling jelek perbuatannya itu, Allah tetap memerintahkan Nabi Musa untuk mengingatkan dengan cara yang baik dan tidak menyinggung perasaannya.

"Jadi, kritik itu dengan bahasa tidak jelek. Kritik juga bukan ghibah, karena kritik itu langsung di hadapan orang. Kalau ghibah bukan kritik dan dosanya berat karena pahala kita bisa diambil orang sasaran ghibah dan ghibah baru selesai bila orang sasaran ghibah memaafkan," katanya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kajian Islam Al Yasmin Surabaya Surat Al-Ashr kajian senja Prof Ali Aziz Dakwah Islam