KETIK, BATU – SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu terus menanamkan budaya sekolah yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan melalui berbagai program berkelanjutan. Upaya tersebut mengantarkan sekolah ini meraih Penghargaan Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup pada Desember 2025.
Kepala SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu, Windra Rizkiyana, menjelaskan bahwa program Adiwiyata di sekolahnya tidak hanya berfokus pada pemenuhan administrasi, melainkan membentuk budaya dan perilaku peduli lingkungan hidup dalam keseharian warga sekolah.
“Adiwiyata kami maknai sebagai upaya membangun budaya sekolah yang bersih, sehat, dan berperilaku ramah lingkungan. Karena itu, selama ini kami menggelar banyak kegiatan Adiwiyata, mulai dari pengelolaan sarana prasarana, kebersihan, hingga kepedulian lingkungan,” ujarnya, Jumat, 9 Januari 2026.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah pengolahan ecoenzym, yakni pemanfaatan sisa makanan menjadi produk bernilai guna. Melalui program ini, siswa diajarkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) dalam bentuk proyek kokurikuler.
“Anak-anak kami ajari mengolah sisa sayur dan buah menjadi ecoenzym. Proyek ini rutin kami lakukan hampir setiap tahun melalui kegiatan kokurikuler dengan masa proses sekitar tiga bulan,” jelas Windra.
Hasil ecoenzym tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti sabun cair, hand sanitizer, hingga pestisida alami. Bahkan, pada masa merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK), sekolah ini pernah menyalurkan sekitar 200 liter ecoenzym untuk kebutuhan penanganan di wilayah Pujon.
“Menjelang libur Tahun Baru kemarin, siswa kembali membuat 19 galon ecoenzym. Insyaallah tiga bulan ke depan akan dipanen dan diolah lagi menjadi produk turunan,” tambahnya.
Saat ini, SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu memiliki 615 siswa yang terbagi dalam 19 kelas. Setiap kelas dilibatkan langsung dalam pembuatan ecoenzym dengan membawa limbah organik dari rumah.
“Satu kelas membuat satu galon ecoenzym. Anak-anak membawa sendiri kulit buah dan sisa sayuran dari rumah, lalu mengolahnya bersama di sekolah,” terang Windra.
Puluhan galon ecoenzym yang diolah oleh para siswa SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)
Selain program di lingkungan sekolah, siswa juga rutin dilibatkan dalam kegiatan pelestarian lingkungan di luar sekolah. Di antaranya kerja bakti membersihkan sungai, fasilitas umum, alun-alun, taman hutan kota, hingga penanaman pohon di lereng Gunung Panderman dan kawasan Sumber Brantas.
“Kegiatan tanam pohon kami lakukan rutin setiap tahun bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Muhammadiyah. Jumlah pohon yang ditanam sudah ratusan dan tersebar di beberapa titik,” katanya.
Kegiatan kebersihan juga dilakukan secara rutin, baik harian, bulanan, maupun tahunan. Di lingkungan sekitar sekolah, siswa turut membersihkan sungai dan sumber mata air di wilayah Torong.
“Kami membiasakan kerja bakti bulanan bersama-sama, tidak hanya di dalam sekolah, tetapi juga di sekitar lingkungan sekolah,” jelasnya.
Dalam keseharian, sekolah juga menekankan kebiasaan ramah lingkungan kepada siswa, seperti membawa bekal dan tumbler dari rumah untuk mengurangi sampah plastik.
“Kami menyediakan galon air isi ulang di setiap lantai. Anak-anak kami biasakan membawa tumbler dan bekal dari rumah agar mengurangi pembelian air mineral dan kemasan sekali pakai,” ujarnya.
Penghargaan Adiwiyata Nasional yang diraih merupakan hasil dari proses panjang dan bertahap, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dengan pendampingan intensif dari DLH Kota Batu.
“Semua ada tahapannya. Dari Adiwiyata Kota, lalu provinsi, hingga nasional. Selama proses itu kami selalu didampingi oleh tim DLH Kota Batu,” ungkap Windra.
Ke depan, SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu menargetkan peningkatan status menjadi Adiwiyata Mandiri. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah pengimbasan dengan mendampingi sekolah-sekolah lain yang belum berstatus Adiwiyata.
“Kami berharap bisa naik ke Adiwiyata Mandiri. Selain pembenahan internal, kami juga akan melakukan pendampingan ke sekolah-sekolah yang belum Adiwiyata agar ikut berkembang,” katanya.
Menurut Windra, penghargaan tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang peduli lingkungan.
“Penghargaan ini menguatkan komitmen kami untuk membangun sekolah yang bersih, sehat, dan berbudaya ramah lingkungan. Harapannya, siswa, guru, hingga wali murid bisa menjadi generasi hijau yang peduli terhadap lingkungan,” pungkasnya.(*)
