Pacitan Nihil Kasus Super Flu H3N2 Subclade K, Warga Diingatkan agar Tak Cemas

8 Januari 2026 11:25 8 Jan 2026 11:25

Thumbnail Pacitan Nihil Kasus Super Flu H3N2 Subclade K, Warga Diingatkan agar Tak Cemas

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pacitan, Nur Farida, saat memberikan keterangan terkait kewaspadaan influenza A (H3N2) subclade K, Jumat, 5 Desember 2025. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)

KETIK, PACITAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus virus influenza A (H3N2) subclade K atau yang kerap disebut super flu di wilayah setempat. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pacitan, Nur Farida, mengatakan hasil laporan surveilans yang diterima menunjukkan Pacitan masih nihil kasus super flu.

“Belum ada laporan kasus di Pacitan,” ujar Nur Farida saat dikonfirmasi Ketik.com, Kamis, 8 Januari 2026.

Farida mengingatkan masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik karena situasi masih dalam kondisi terkendali.

Ia memaparkan, bahwa subclade K merupakan bagian dari evolusi alami virus influenza.

Istilah super flu, kata Farida, tidak serta-merta menunjukkan virus tersebut lebih mematikan.

“Istilah super flu tidak berarti virus ini lebih mematikan, namun menunjukkan adanya perubahan genetik yang perlu dipantau secara ketat melalui surveilans genomik,” paparnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Pacitan terus mengedukasi masyarakat terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Edukasi kepada masyarakat terkait perilaku hidup bersih dan sehat, etika batuk, penggunaan masker, serta anjuran vaksin influenza merupakan langkah pencegahan,” imbaunya.

Mengenali Gejala Khas Influenza A Subclade K

Farida juga menjelaskan perbedaan antara influenza musiman biasa dengan influenza A subclade K terletak pada tingkat keparahan gejala.

Perbedaan utamanya terletak pada derajat keparahan gejala yang dirasakan.

"Jika flu biasa umumnya hanya menimbulkan demam ringan dan hidung meler, influenza A subclade K memiliki manifestasi klinis yang lebih berat," ungkapnya.

Antara lain gejalanya:

  • Demam sangat tinggi, dengan suhu tubuh bisa mencapai 39 hingga 41 derajat Celsius.
  • Nyeri otot dan sendi hebat yang membuat tubuh terasa sangat lemas.
  • Sakit kepala berat dengan intensitas lebih tinggi.
  • Sakit tenggorokan disertai batuk kering yang menetap.

“Kombinasi demam di atas 39 derajat Celsius dan rasa lemas yang ekstrem menjadi peringatan untuk segera mendapatkan perhatian medis,” ujarnya.

Risiko dan Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi terkini, risiko kematian akibat super flu secara umum tidak jauh berbeda dengan influenza musiman.

Meski begitu, ia berpesan, tetap perlu waspada dan tidak boleh menyepelekan virus ini. "Lonjakan tertinggi di Indonesia terjadi pada November 2025 lalu," ungkapnya.

Bahaya utama justru berasal dari komplikasi yang dapat muncul, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit penyerta seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung.

"Komplikasi berupa pneumonia atau infeksi pernapasan akut berat berisiko memicu kegagalan organ jika tidak segera ditangani," katanya.

Pencegahan dan Peran Vaksin Influenza

Untuk mencegah penularan, Farida mengingatkan pentingnya langkah pencegahan, antara lain:

  • Vaksinasi influenza tahunan. Meski vaksin saat ini disusun berdasarkan subvarian H3N2 yang lebih lama, vaksin masih efektif menurunkan tingkat keparahan gejala, dengan perlindungan sekitar 70 persen pada anak dan 40 persen pada dewasa.
  • Penerapan protokol kesehatan, seperti penggunaan masker di keramaian, cuci tangan, serta etika batuk dan bersin.
  • Isolasi mandiri di rumah apabila mengalami gejala flu untuk memutus rantai penularan di lingkungan sekitar. (*)

Tombol Google News

Tags:

Super Flu H3N2 Influenza Dinkes Jatim pacitan Kesehatan Masyarakat dinkes pacitan