Jatim Gerbang Nusantara Baru! Kokohkan Posisi sebagai Penyangga Utama Perekonomian Nasional

8 Maret 2026 00:48 8 Mar 2026 00:48

Thumbnail Jatim Gerbang Nusantara Baru! Kokohkan Posisi sebagai Penyangga Utama Perekonomian Nasional

Revi Adiana Silawati, dalam seminar "Growing Together, Connecting Hearts" yang digelar Surabaya Friendship Club (SFC), Jumat 6 Maret 2026.  (Foto: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Jawa Timur kian mempertegas perannya sebagai gerbang Nusantara baru. Tidak hanya sebagai kontributor Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar kedua nasional setelah DKI Jakarta, provinsi ini juga berfungsi sebagai simpul logistik strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dengan kawasan Timur Indonesia.

Hal ini diungkapkan profesional perbankan senior, Revi Adiana Silawati, dalam seminar "Growing Together, Connecting Hearts" yang digelar Surabaya Friendship Club (SFC), Jumat, 6 Maret 2026. 

Revi menekankan bahwa kombinasi infrastruktur konektivitRevi Adiana Silawati, dalam seminar "Growing Together, Connecting Hearts" yang digelar Surabaya Friendship Club (SFC), Jumat 6 Maret 2026.  (Foto: Ilma Nurlaila/Ketik.com)as yang masif, kekuatan sektor industri pengolahan, serta ekosistem UMKM yang melibatkan 10 juta pelaku usaha menjadi fondasi ketangguhan ekonomi Jatim di tengah gelombang ketidakpastian global.

Proyeksi ekonomi global pada 2025 memang menunjukkan stabilitas di angka 3,3 persen. Namun, tantangan geopolitik, transisi kecerdasan buatan, serta dinamika suku bunga The Fed yang diperkirakan bertahan di level 3,75 persen pada 2025 sebelum turun menjadi 3,25 persen pada 2026, tetap menjadi variabel yang harus diwaspadai.

Di tingkat nasional, Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 mencapai 5,4 persen, dengan Jawa Timur konsisten menyumbang pertumbuhan signifikan. Kontribusi ini ditopang lima sektor unggulan: industri pengolahan (30,59 persen), perdagangan besar dan eceran (18,81 persen), konstruksi (9,33 persen), pertanian, kehutanan, dan perikanan (9,15 persen), serta informasi dan komunikasi (7,13 persen). 

Dominasi industri pengolahan yang mencakup kimia, tekstil, hingga pangan olahan membuktikan basis manufaktur Jatim masih sangat relevan dalam peta ekonomi nasional.

Kekuatan ekonomi Jawa Timur semakin diperkokoh oleh ekosistem UMKM yang masif. Meski demikian, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 9,15 persen terhadap PDRB provinsi ini rentan terhadap guncangan cuaca dan fluktuasi harga komoditas global. 

Revi menyoroti pentingnya diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan efisiensi industri untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi mitra dagang utama, khususnya Tiongkok, yang berpotensi menurunkan volume ekspor komoditas kayu, karet, dan hasil perikanan.

"Fluktuasi harga komoditas berpotensi menurunkan pendapatan petani dan pelaku usaha, sekaligus memengaruhi penerimaan negara dari bea keluar dan devisa," jelasnya.

Dari sisi infrastruktur, Jawa Timur memiliki keunggulan komparatif yang menjadikannya pintu gerbang alami distribusi logistik nasional. Pelabuhan Tanjung Perak melayani 21 dari 39 rute tol laut, sehingga hampir 80 persen kebutuhan logistik untuk 19 provinsi di Indonesia Timur disuplai dari Jawa Timur. 

Konektivitas ini didukung oleh 37 pelabuhan, 7 bandara, 12 ruas jalan tol, 13 kawasan industri, serta pengembangan dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Malang yang berfokus pada ekonomi digital dan pendidikan, dan satu kawasan industri halal di Sidoarjo.

Infrastruktur komprehensif ini menempatkan Jawa Timur sebagai jalur utama pengiriman material pembangunan dan kebutuhan logistik untuk Ibu Kota Nusantara (IKN). 

"Jawa Timur menjadi jalur utama pengiriman material pembangunan dan kebutuhan logistik untuk Ibu Kota Nusantara," tegas Revi.

Di sektor perbankan, tren penyaluran kredit di Jawa Timur pada 2025 menunjukkan perlambatan, terutama pada segmen industri besar yang pertumbuhannya turun dari 8,02 persen menjadi 1,67 persen. 

Fenomena ini mencerminkan sikap "wait and see" dunia usaha serta kehati-hatian perbankan dalam mengelola risiko kredit macet. Sebagai respons, perbankan kini lebih agresif menyalurkan pembiayaan ke segmen UMKM untuk mengurangi risiko.

Revi juga menyoroti pentingnya manajemen likuiditas bagi pelaku usaha dalam membangun bisnis yang "weather proof". Ia mengingatkan bahwa ketersediaan dana harus diimbangi dengan tata kelola yang bijaksana agar bisnis tetap sehat di tengah ketidakpastian.

Tantangan struktural seperti kepemilikan lahan pertanian yang terfragmentasi di mana rata-rata petani lokal hanya menguasai lahan di bawah 0,5 hektar turut menjadi perhatian karena berpotensi memicu alih fungsi lahan.

Namun, transformasi digital justru membuka peluang baru bagi generasi muda. Daerah seperti Malang kini bertransformasi menjadi pusat pengembangan sekolah digital yang mengintegrasikan teknologi dengan sektor pertanian modern.

Pergeseran pola pikir anak muda yang memilih kembali ke desa berkat dukungan infrastruktur digital menandai babak baru kewirausahaan inklusif. "Generasi sekarang lebih tertarik membuka usaha sendiri daripada menjadi pegawai, meski harus jatuh bangun di awal," ungkap Revi.

Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, perbankan dan masyarakat, Jawa Timur tidak hanya siap menghadapi gelombang ketidakpastian global, tetapi juga memimpin transformasi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sfc Perbankan menuju gerbang baru jatim Gerbang Nusantara IKN Ekonomi Indonesia data ekonomi