KETIK, SURABAYA – Menjelang waktu berbuka puasa, rasa lapar biasanya sudah mencapai puncaknya setelah seharian menahan diri dari makan dan minum. Tak sedikit orang yang akhirnya langsung menyantap makanan berat begitu azan Magrib berkumandang.
Nasi, lauk-pauk, gorengan, hingga minuman manis sering kali langsung disantap dalam jumlah banyak. Namun, kebiasaan tersebut sebenarnya tidak dianjurkan.
Dalam tradisi Islam, berbuka puasa justru dianjurkan dimulai dengan makanan yang ringan, seperti kurma. Kebiasaan ini mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW yang memulai berbuka dengan beberapa butir kurma sebelum melanjutkan dengan makanan utama. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Rasulullah:
“Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa butir kurma basah sebelum beliau salat. Jika tidak ada kurma basah, maka dengan beberapa butir kurma kering. Jika tidak ada juga, beliau meneguk beberapa teguk air.”
Selain mengikuti sunnah, memulai berbuka dengan makanan ringan juga dinilai lebih baik bagi kondisi lambung. Hal ini dijelaskan oleh dokter Tirta Mandira Hudi dalam sebuah video di kanal YouTube @radityadika pada Minggu, 22 Februari 2026.
Setelah sekitar 12 jam tidak menerima asupan makanan dan minuman, lambung berada dalam keadaan kosong, sementara produksi asam lambung tetap berlangsung.
“Karena ketika kita bayangin dalam waktu 12 jam tuh lambung kosong, asam lambung naik,” jelas dokter Tirta.
Jika makanan berat langsung masuk saat berbuka, lambung bisa mengalami gangguan pencernaan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti perut terasa penuh, begah, atau nyeri di bagian ulu hati.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai dispepsia, yakni gangguan pencernaan yang menimbulkan keluhan seperti perut terasa penuh, begah, atau nyeri di ulu hati. Pada sebagian orang yang sensitif terhadap asam lambung, kondisi ini juga dapat memperburuk gejala refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD).
“Jadi otomatis kalo kita langsung kasih makanan berat, dia bisa ada resiko dispepsia alias perut sebah,” lanjut dokter Tirta.
“Itu asam lambungnya naik terus, bisa potensi gerd nanti, dari dispepsia jadi gerd,” imbuh dokter tersebut.
Karena itu, ia menyarankan agar berbuka puasa dimulai dengan makanan yang lebih ringan terlebih dahulu. Minuman seperti air putih, minuman segar, atau makanan lembut seperti kurma dan roti dinilai lebih ramah bagi lambung yang masih kosong.
Setelah itu, umat Muslim dianjurkan memberi jeda sebelum mengonsumsi makanan utama, misalnya dengan menunaikan salat Magrib terlebih dahulu. Jeda waktu ini memberi kesempatan bagi lambung untuk mulai beradaptasi setelah menerima asupan awal.
“Justru ketika kita telat makan, itu kita harus makan makanan yang lunak terlebih dahulu. Makanya disarankan takjil dulu. Minum air putih atau air yang segar, ditambah dengan takjil, maghriban baru kita makan yang berat,” jelasnya dalam video tersebut.
Dengan pola berbuka seperti ini, tubuh dapat menerima makanan secara bertahap sehingga risiko perut begah atau gangguan pencernaan saat berbuka dapat diminimalkan. Selain lebih nyaman bagi lambung, cara ini juga membantu seseorang mengontrol porsi makan setelah seharian berpuasa. (*)
