Dari Pahit ke Manis, Strategi Raih Hati Milenial dan Gen Z Gemar Minum Jamu

8 Maret 2026 00:45 8 Mar 2026 00:45

Thumbnail Dari Pahit ke Manis, Strategi Raih Hati Milenial dan Gen Z Gemar Minum Jamu

Para tamu SFC sedang mencoba Jamu Iboe dalam acara buka bersama di Resto Nine Jumat, 6 Maret 2026 (Foto: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Brand warisan leluhur yang sudah berdiri sejak tahun 1910, Jamu Iboe membuktikan bahwa produk tradisional bisa tetap relevan di tengah gempuran minuman kekinian.

Product Group Manager (PGM) Jamu Iboe, Perry Angglishartono, menjelaskan bahwa kuncinya bukan menghilangkan rasa pahit yang menjadi ciri khas jamu, melainkan menambah varian rasa manis dan modern untuk menjaring pasar muda.

"Strategi regenerasi konsumen Jamu Iboe justru menemukan pola unik. Generasi Milenial membutuhkan pendekatan rasa lebih manis, sementara Generasi Z (Gen Z) malah menunjukkan apresiasi lebih tinggi terhadap rasa asli jamu yang pahit," ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara buka puasa bersama Surabaya Friendship Club (SFC) bertema "Growing Together, Connecting Hearts" pada Jumat, 6 Maret 2026.

Dikelola oleh generasi keempat di bawah kepemimpinan Stephen Walla, Jamu Iboe tetap memegang filosofi pendiriannya. Nama "Iboe" dipilih sebagai simbol kasih sayang seorang ibu yang ingin memberikan terbaik bagi kesehatan keluarga. 

Filosofi tersebut menjadi pondasi bagi setiap inovasi yang dilakukan, termasuk transformasi rasa dan kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap generasi.

Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar industri jamu bukan sekadar kompetisi antarmerek, melainkan persepsi masyarakat bahwa jamu itu kuno, tidak higienis, dan terlalu pahit. Oleh karena itu, Jamu Iboe menerapkan strategi produk yang jelas. 

Produk jamu dengan varian rasa manis atau hasil kolaborasi dengan kafe, seperti Herbal Coffee, Smoothies, hingga Jamu Mocktails yang Instagrammable, dikemas dalam bentuk sachet praktis yang mudah ditemukan di gerai-gerai kekinian.

Sementara itu, untuk konsumen yang mengutamakan khasiat murni tanpa kompromi rasa, Jamu Iboe menyediakan produk dalam bentuk kapsul ekstrak yang didistribusikan melalui jalur formal seperti apotek dan toko obat.

"Untuk Milenial, kuncinya adalah masuk lewat rasa yang enak. Kami mematahkan persepsi bahwa jamu harus selalu pahit dan menyisakan ampas," jelas Perry.

Tren berubah saat Gen Z mulai mendominasi pasar. Product Group Manager ini mengamati bahwa anak muda saat ini jauh lebih kritis terhadap kandungan produk. Mereka peduli pada "less sugar", keberlanjutan lingkungan, dan khasiatnya.

"Ternyata Gen Z ini unik. Karena mereka lebih melek kesehatan dan kritis, mereka justru lebih menerima rasa asli jamu yang pahit sebagai tanda keautentikan dan khasiat. Mereka tidak ingin tertipu oleh rasa manis berlebihan," tambahnya.

Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi Jamu Iboe dalam menyusun strategi produk ke depan, termasuk memperkuat distribusi kapsul ekstrak di apotek dan toko obat. 

Meski gencar melakukan inovasi rasa manis dan variasi kekinian, Perry menegaskan bahwa Jamu Iboe tidak pernah menghilangkan produk jamu seduh asli yang pahit.

"Kami tidak menghilangkan jamu pahitnya. Kami hanya menambah kategori 'Lifestyle'. Produk asli tetap ada untuk mereka yang butuh khasiat murni, sementara varian manis adalah pintu masuk bagi mereka yang baru mengenal jamu," tegasnya.

Untuk mempertahankan relevansi tersebut, Jamu Iboe menerapkan strategi "4-Si", yakni persepsi, regeneasi, sosialisasi dan regulasi.

Rinciannya, persepsi diperkukan untuk membenahi persepsi visual produk agar terlihat modern dan memiliki banyak pilihan rasa, tidak hanya pahit.Lalu regenerasi, fokus pada regenerasi konsumen, SDM dan mitra penjual.

Berikutnya, sosialisasi atau edukasi berkelanjutan ke sekolah, kampus, dan komunitas, serta regulasi,atau kepatuhan ketat terhadap standar BPOM dan CPOTB.

Dengan kombinasi menjaga tradisi rasa pahit dalam bentuk kapsul di apotek, sekaligus merangkul inovasi rasa manis yang modern dalam kemasan sachet di kafe-kafe kekinian, Jamu Iboe optimis dapat membawa produk herbal Indonesia setara dengan suplemen kesehatan internasional. Warisan leluhur tetap hidup, bukan karena dipaksakan, melainkan karena terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sfc jamu iboe resto nine acara buka bersama produk jamu iboe jamu legendaris jamu update acara Surabaya Friendship Club