Kurma dan Berbuka Puasa, Tradisi atau Anjuran Nabi?

6 Maret 2026 01:00 6 Mar 2026 01:00

Thumbnail Kurma dan Berbuka Puasa, Tradisi atau Anjuran Nabi?

foto berbuka kurma dan air putih (Desain: Ilma Nurlaila)

KETIK, JAKARTA – Kurma dan berbuka puasa telah menjadi pemandangan yang akrab di masyarakat Muslim Indonesia setiap bulan Ramadan. Namun, di balik kebiasaan yang tampak sederhana tersimpan pertanyaan mendasar, apakah tradisi mengonsumsi kurma saat berbuka hanyalah warisan budaya, atau anjuran Nabi Muhammad Saw?

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa praktik ini bukan sekadar tradisi, melainkan panduan kenabian yang terbukti secara ilmiah memiliki manfaat fisiologis bagi tubuh yang seharian berpuasa.

Dr Ahmad Abdurrauf Hasyim dalam kitabnya 'Ramadan wath Thibb' menjelaskan bahwa dalam hadis tentang berbuka puasa terkandung hikmah kesehatan yang agung. Menurutnya, Nabi Muhammad Saw dengan sengaja memilih mendahulukan kurma dan air dibandingkan jenis makanan lainnya.

Dr. Ahmad menjelaskan, “Pilihan memakan kurma merupakan bimbingan wahyu ilahi yang menempatkan kurma dan air sebagai opsi terbaik bagi orang yang berpuasa, alasannya, tubuh yang seharian menahan lapar dan dahaga sangat membutuhkan asupan gula, zat cair yang mudah dicerna, serta air untuk menghilangkan dahaga secara efektif,” ucapnya.

Kurma mengandung zat gula seperti glukosa dan fruktosa yang memerlukan waktu 5-10 menit untuk terserap di usus manusia, khususnya saat kondisi perut kosong seperti pada orang berpuasa. Dari berbagai jenis makanan, kurma terutama kurma basah “ruthab” menjadi pilihan ideal karena mudah dicerna dan cepat diserap tubuh.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, urutan makanan terbaik untuk berbuka puasa adalah ruthab, dilanjutkan tamr “kurma kering”, kemudian air. Jika ketiganya tidak tersedia, alternatif seperti sirup atau air jus buah yang mengandung gula alami, misalnya air dicampur madu, jeruk, atau lemon diperbolehkan sebagai pengganti.

Dr. Anwar Mufti juga menekankan aspek kecepatan penyerapan nutrisi sebagai kunci pemulihan energi setelah berpuasa. Ia menjelaskan bahwa usus manusia menyerap air yang mengandung gula hanya dalam waktu sekitar 5 menit, sehingga dapat dengan cepat memperkuat tubuh yang sedang dalam kondisi lemah.

Sebaliknya, jika seseorang berbuka langsung dengan makanan dan minuman yang minim kandungan gula, proses penyerapannya oleh lambung bisa memakan waktu 3-4 jam. Kondisi ini jelas kurang ideal bagi orang yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa.

“Berbeda dengan konsumsi kurma yang kaya gula alami sehingga proses penyerapannya berlangsung relatif lebih cepat,” ujarnya.

Karena itu, mengonsumsi kurma saat berbuka puasa bukan sekadar mengikuti tradisi leluhur, melainkan menerapkan anjuran Nabi Muhammad yang terbukti selaras dengan prinsip kesehatan modern.

Kombinasi antara bimbingan wahyu dan temuan ilmiah ini menguatkan posisi kurma sebagai makanan yang tepat untuk memulihkan kondisi tubuh setelah seharian berpuasa.

Bagi umat Muslim, praktik ini tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kesehatan tubuh yang merupakan amanah dari Allah Swt. (*)

Tombol Google News

Tags:

Hikmah Ramadan Kurma Berbuka Puasa air putih sunnah atau tradisi SUNNAH NABI