KETIK, YOGYAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus menekan perekonomian global dan berdampak langsung pada Indonesia. Kenaikan harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya inflasi impor menjadi kombinasi tekanan yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.
Di dalam negeri, tekanan tersebut semakin terasa karena daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan mulai melemah, sehingga memperbesar kerentanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.
Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Yudistira Hendra Permana, menilai ketidakpastian global saat ini justru lebih kompleks dibandingkan konflik terbuka. Menurutnya, dinamika geopolitik diwarnai tekanan dan manuver antarnegara tanpa kepastian arah yang jelas.
“Yang kita hadapi sekarang itu bukan perang terbuka, tetapi situasi yang penuh ketidakpastian, di mana masing-masing pihak saling menekan tanpa benar-benar masuk ke konflik besar, dan kondisi seperti ini justru lebih sulit direspons karena arah perubahannya tidak jelas,” ujar Yudis, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 9 April 2026.
Tekanan global tersebut kemudian merembet ke sektor domestik melalui kenaikan biaya produksi. Yudis menjelaskan bahwa inflasi yang terjadi saat ini lebih didorong oleh faktor biaya (cost-push inflation), terutama akibat lonjakan harga energi dan bahan baku.
Gangguan pasokan dan naiknya ongkos produksi, khususnya di sektor pangan, turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. “Inflasi yang kita hadapi sekarang lebih banyak berasal dari sisi biaya, dari ongkos produksi yang meningkat, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih sehingga tekanan ini terasa semakin berat,” ungkapnya.
Situasi ini juga berdampak pada kepercayaan pelaku usaha. Dunia industri cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi maupun investasi di tengah ketidakpastian global dan domestik.
“Pelaku usaha melihat ke depan dengan cukup hati-hati karena tekanan biaya masih tinggi dan ketidakpastian belum mereda, sehingga ekspektasi mereka untuk beberapa bulan ke depan cenderung tidak terlalu optimistis,” jelas Yudis.
Dengan tekanan berlapis tersebut, ekonomi Indonesia menghadapi tantangan berat untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan di tengah situasi global yang tidak menentu. (*)
