KETIK, JAKARTA – Cahaya lampu kristal di dalam Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi memantul lembut di pilar-pilar marmer saat jam digital menunjukkan pukul 02.30 dini hari waktu setempat.
Di saat sebagian besar penghuni bumi masih terlelap dalam mimpi, Imam Ghozali sudah bersimpuh di atas karpet hijau, menanti fajar menyapa kota Rasulullah pada Sabtu pagi, 7 Maret 2026.
Di balik sujudnya yang panjang, ada sebuah keimanan yang tak bergeming oleh desas-desus dunia, sebuah keberanian yang melampaui logika rasa aman manusiawi.
Bagi Imam, keberadaannya di tanah suci di tengah gejolak perang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan manifestasi keteguhan hati untuk memenuhi panggilan-Nya.
Ia meletakkan seluruh ketakutannya dalam kotak keikhlasan, memilih untuk meninggalkan segala risiko di belakang demi satu keputusan mutlak: menjemput rida-Nya di waktu yang paling mulia.
Sebagian Besar Mundur
Kisah keberangkatan Imam adalah anomali di tengah logika ketakutan. Awalnya, ada 23 orang yang terdaftar dalam rombongan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang ia ikuti.
Mereka sudah membayar seluruh biaya, menyiapkan koper, dan membasahi lisan dengan doa. Namun, tepat di detik-detik terakhir sebelum keberangkatan, nyali mayoritas peserta ciut.
Bayang-bayang perang 28 Februari 2026 yang dipicu gejolak Iran membuat 19 orang peserta lainnya memilih mundur secara sepihak, membatalkan rencana yang sebenarnya tinggal selangkah lagi menuju Baitullah.
Keputusan itu terasa getir, bukan hanya soal batalnya impian mencium Hajar Aswad, tapi juga hantaman finansial yang telak. Karena pembatalan dilakukan atas kehendak pribadi di tengah situasi yang masih dianggap memungkinkan untuk terbang oleh maskapai, uang puluhan juta rupiah itu menguap begitu saja.
"Tinggal dihitung berapa ratus juta duit yang hangus," ujar Imam sembari membayangkan nasib tabungan rekan-rekannya yang tak mendapatkan pengembalian (refund).
Ironisnya, ketika suasana sedikit mereda beberapa hari kemudian, sebagian peserta yang mundur sempat mencoba kembali bergabung, namun pemilik travel sudah menutup pintu rapat-rapat.
Pintu pesawat telah tertutup bagi mereka yang ragu, menyisakan Imam dan tiga kawan lainnya sebagai penyintas dalam rombongan yang kini menciut drastis.
Keteguhan Hati
Imam sendiri adalah seorang sopir colt diesel di sebuah perusahaan perunggasan. Selama tiga dekade, hidupnya dihabiskan di balik kemudi, mengantar tumpukan rak telur menyusuri jalur Pantura menuju Jakarta.
Baginya, uang Rp 44 juta yang ia setorkan untuk perjalanan 16 hari ini bukanlah angka yang kecil. Itu adalah hasil akumulasi keringat dari ribuan kilometer aspal yang ia lahap dan ratusan malam yang ia habiskan di bahu jalan.
Mungkin karena terbiasa menghadapi kerasnya jalanan dan ketidakpastian cuaca di jalur darat, mentalnya tak mudah goyah oleh desas-desus.
Keajaiban kecil justru terjadi karena kegigihan kelompok kecil ini. Karena hanya tersisa empat orang yang bertahan, biro umrah awal mereka terpaksa memutar otak dan akhirnya mengalihkan mereka ke biro lain agar tetap bisa terbang.
Uniknya, keempat orang yang tersisa dan tetap teguh berangkat di tengah ancaman perang ini semuanya memiliki profesi yang sama: mereka adalah para sopir.
"Kami terbiasa di jalanan, risikonya nyata setiap hari. Jadi saat yang lain ramai ingin mundur, saya tetap semangat. Tetap tenang karena niatnya ibadah," ungkap Imam dengan nada mantap.
Di saat jemaah dari latar belakang lain memilih mundur demi keamanan, empat pengemudi ini justru melaju menembus batas ketakutan, seolah sudah terbiasa bahwa setiap perjalanan memang selalu memiliki risikonya sendiri.
Ramadan di Tanah Suci
Lelaki dengan tiga anak laki-laki yang semuanya sudah mandiri ini mengaku tak goyah sedikit pun saat grup percakapannya ramai dengan instruksi pembatalan.
Baginya, niat ibadah sudah dipancangkan sejak ia meninggalkan Surabaya dengan maskapai Lion Airlines pada Kamis, 5 Maret lalu. Tahun lalu ia memang sudah menginjakkan kaki di tanah suci, namun kerinduan untuk merasakan atmosfer Ramadan di bawah bayang-bayang kubah hijau Nabawi mengalahkan segalanya.
Ia ingin benar-benar mendekatkan diri pada-Nya, mencari ketenangan yang barangkali sulit ditemukan di tengah deru mesin dan debu jalanan.
Bagi Imam, Ramadan 1477 H di Madinah bukan sekadar ritual, melainkan ruang untuk kontemplasi mendalam. Ia rela terjaga sejak dini hari demi mereguk syahdunya suasana masjid sebelum puncak keramaian tiba.
"Hari Kamis sampai Senin ini kami berada di Madinah terus, sisanya di Makkah," terangnya mengenai jadwal perjalanannya.
Ia bertekad tetap berada di tanah suci hingga hari kemenangan tiba, melaksanakan Salat Id di Masjidil Haram, sebelum akhirnya terbang kembali ke tanah air.
Di tengah gemuruh isu perang, Imam Ghozali membuktikan bahwa bagi seorang pengelana aspal, perjalanan paling jauh bukan menuju Jakarta, melainkan perjalanan menuju ketenangan batin yang ia temukan di sujud subuhnya pagi itu. (*)
