KETIK, JAKARTA – Rupiah resmi mencatat nilai tukar terlemah sepanjang sejarah setelah ditutup di level Rp17.105 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 April 2026, di tengah memanasnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.
Mata uang Indonesia ini tercatat melemah 70 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini sekaligus menandai tekanan berat yang masih membayangi pasar keuangan domestik akibat sentimen global.
Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp17.092 per dolar AS.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang bergerak di zona hijau. Yen Jepang menguat 0,08 persen, baht Thailand naik 0,21 persen, yuan China menguat 0,33 persen, dan won Korea Selatan melonjak 0,77 persen. Sementara itu, peso Filipina justru melemah 0,46 persen.
Dolar Singapura juga tercatat menguat 0,10 persen, sedangkan dolar Hong Kong naik tipis 0,1 persen pada penutupan perdagangan sore ini.
Tren penguatan juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa naik 0,23 persen, poundsterling Inggris menguat 0,03 persen, franc Swiss bertambah 0,18 persen, sementara dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing menguat 0,12 persen dan 0,18 persen.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memastikan tak akan membiarkan jebloknya rupiah terus terjadi. Mereka telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah volatilitas yang berlebihan.
"Menstabilkan rupiah tentu saja menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan semua alat dan kebijakan yang tersedia, kami akan berupaya sekuat tenaga," kata Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, seperti dilansir dari Reuters
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang tersebut sebagian besar disebabkan oleh dinamika global, termasuk reaksi pasar terhadap perang AS-Israel terhadap Iran.
