Dilema Pedagang Kecil Saat Harga Plastik Naik, Harga Jual Tak Berani Ikut

11 April 2026 14:45 11 Apr 2026 14:45

Nikken Adinda A., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Dilema Pedagang Kecil Saat Harga Plastik Naik, Harga Jual Tak Berani Ikut

Bu nani pedagang gorengan Kota Malang keluhkan harga tas plastik yang kini naik pesat, 10 April 2026. (Foto: Nikken/Ketik.com).

KETIK, MALANG – Kenaikan harga plastik belakangan ini mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Malang. Bagi mereka yang bergantung pada kemasan sederhana seperti kantong plastik, lonjakan harga ini bukan sekadar isu, tapi langsung menghantam biaya harian.

Bu Nani, pedagang gorengan keliling yang biasa mangkal di kawasan Jalan Kertanegara, Pasar Kodam, hingga Rampal, mengaku kenaikan harga plastik terasa cukup drastis. Ia mengetahui dari sesama pedagang bahwa harga plastik naik dari kisaran Rp55.000 menjadi Rp69.000 per pak.

“Naiknya banyak, hampir 40 sampai 100 persen. Kata teman saya itu dari 55 ribu, sampai sekarang naiknya 69 ribu” ujarnya saat ditemui, Jumat siang, 10 April 2026.

Meski begitu, Bu Nani mengaku tidak punya banyak pilihan. Sebagai penjual gorengan, plastik masih menjadi kebutuhan utama. Opsi mengganti dengan kertas pun dinilai tidak memungkinkan.

“Kalau pakai kertas, nanti tumpah semua, karena ada petisnya. Jadi harus tetap pakai kantong,” jelasnya.

Di tengah kondisi ini, bu Nani pun berada dalam posisi serba sulit, jika menaikkan harga maka akan berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga berarti harus menanggung beban biaya yang terus naik.

“Kalau dinaikkan, nggak laku. Karena yang beli di saya juga bukan orang yang banyak uang,” kata Bu Nani.

Hal serupa dirasakan Pak Zaini, pedagang cilok di sekitar Taman Trunojoyo. Ia menyebut harga plastik yang biasa digunakan untuk kemasan ciloknya mengalami kenaikan hingga dua kali lipat dalam beberapa hari terakhir.

“Yang biasanya Rp3.500 sekarang jadi Rp6.000. Ada juga yang dari Rp4.000 jadi Rp5.000,” ungkap pria asal Pamekasan, Madura, yang sudah menetap di Malang sejak 1996.

Menurutnya, kenaikan harga ini langsung berdampak pada biaya operasional. Namun, ia memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga pembeli.

“Kalau jualan tetap aja. Rp5.000 ya tetap Rp5.000,” katanya.

Keputusan itu tentu ada konsekuensinya. Margin keuntungan yang sebelumnya tipis kini semakin tergerus.

“Kalau harga plastik naik kayak gini ya mungkin berkurang keuntungannya,” tambahnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga bahan baku, sekecil apa pun, bisa berdampak besar bagi pelaku UMKM. Terutama mereka yang mengandalkan volume penjualan harian dengan margin keuntungan yang terbatas. (*)

Tombol Google News

Tags:

Dampak perang Iran Kenaikan harga plastik UMKM Kota Malang