Didukung Indonesia, Menantu Trump Paparkan Rencana Rekonstruksi Gaza: Hamas Harus Letakkan Senjata

23 Januari 2026 07:00 23 Jan 2026 07:00

Thumbnail Didukung Indonesia, Menantu Trump Paparkan Rencana Rekonstruksi Gaza: Hamas Harus Letakkan Senjata

Jared Kushner bersama sang istri Ivanka Trump, saat berkunjung ke Israel pasca genjatan senjata beberapa bulan lalu. (X @JaredKushner)

KETIK, JAKARTA – Jared Kushner, penasihat senior Gedung Putih sekaligus menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memaparkan rencana ambisius untuk membangun kembali Jalur Gaza menjadi kawasan modern dengan pembangunan berskala besar. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh rencana tersebut hanya dapat berjalan jika Hamas terlebih dahulu melucuti senjata dan mengakhiri peran militernya di wilayah tersebut.

Rencana itu dipresentasikan Kushner dalam sebuah forum internasional di Davos, Swiss, sebagai bagian dari inisiatif pascaperang Gaza yang didorong oleh Amerika Serikat dan mitra internasionalnya.

“Tanpa demiliterisasi, kita tidak bisa membangun kembali,” kata Kushner dalam presentasinya dalam forum World Economic Forum (WEF) di Davos, Swis seperti dikutip dari The Times of Israel, Jumat, 23 Januari 2026.

Board of Peace (BoP) yang akan menjadi Dewan Perdamaian untuk melaksanakan perbaikan di Gaza pasca dihancurkan pasukan Israel, sejauh ini telah didukung oleh 19 negara. Salah satunya adalah Indonesia yang ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pria berdarah Yahudi ini menegaskan bahwa keberadaan senjata dan kelompok bersenjata akan menjadi penghambat utama bagi masa depan Gaza dan rakyatnya.

“Jika Hamas tidak mendemiliterisasi, itu akan menjadi hambatan bagi Gaza dan rakyat Gaza untuk mencapai aspirasi mereka,” ujarnya.

 

Rencana “Kesuksesan Katastrofik”

Dalam paparannya, Kushner menyebut rencana rekonstruksi ini menargetkan apa yang ia sebut sebagai “kesuksesan yang katastrofik,” sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan transformasi besar-besaran Gaza dari wilayah konflik menjadi pusat ekonomi dan permukiman modern.

Ia menampilkan gambaran kawasan dengan gedung-gedung tinggi, lingkungan hijau, serta kawasan tepi laut yang tertata rapi. Kushner menyatakan bahwa pembangunan skala besar seperti itu bukan hal yang mustahil di kawasan Timur Tengah.

“Di Timur Tengah, mereka membangun kota seperti ini untuk dua atau tiga juta orang dalam tiga tahun,” kata Kushner. “Jadi hal seperti ini sangat mungkin terjadi jika kita membuatnya terjadi.”

Menurut rencana tersebut, pembangunan akan dimulai dari wilayah Rafah di selatan Gaza dan dilakukan secara bertahap menuju Gaza City di utara. Rencana itu juga mencakup pembangunan pelabuhan laut, bandara, serta penerapan sistem ekonomi pasar bebas untuk menarik investasi global.

Kushner menyebutkan bahwa target investasi untuk rekonstruksi Gaza mencapai sekitar 25 miliar dolar AS. Ia mengatakan pengumuman resmi mengenai kontribusi dana dan investor akan dilakukan dalam beberapa minggu ke depan di Washington.

“Kami akan mengumumkan banyak kontribusi yang akan dibuat dalam beberapa minggu mendatang,” ujarnya. “Akan ada peluang investasi yang luar biasa.”

 

Demiliterisasi dan Integrasi Mantan Pejuang

Kushner menjelaskan bahwa aspek keamanan menjadi fondasi utama rencana tersebut. Senjata berat akan dinonaktifkan segera setelah proses demiliterisasi, sementara senjata pribadi akan disingkirkan secara bertahap seiring terbentuknya pasukan keamanan Palestina yang baru.

Ia juga mengungkapkan bahwa para petempur yang menyerahkan senjata akan diberikan beberapa opsi. “Mereka akan diberi amnesti dan reintegrasi,” kata Kushner, atau alternatif lain berupa “jalur aman” untuk meninggalkan wilayah tersebut. Sebagian kecil bahkan dapat diintegrasikan ke dalam struktur administrasi baru Gaza, setelah melalui pemeriksaan ketat.

Kushner menyoroti bahwa selama ini sekitar 85 persen ekonomi Gaza bergantung pada bantuan internasional, sebuah kondisi yang menurutnya tidak berkelanjutan dan tidak memberikan martabat bagi penduduk.

“Model bantuan ini tidak memberi harapan jangka panjang,” katanya, seraya menambahkan bahwa rencana baru ini bertujuan menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kemandirian.

 

Dukungan Trump dan Respons Internasional

Presiden Donald Trump turut menyampaikan dukungannya terhadap rencana tersebut. Ia menggambarkan Gaza sebagai wilayah dengan potensi ekonomi besar, terutama karena lokasinya yang strategis di pesisir Laut Mediterania.

“Ini akan menjadi hal yang luar biasa untuk disaksikan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa sebagai seorang pengusaha properti, dirinya melihat peluang besar dalam rekonstruksi Gaza jika stabilitas dapat terwujud.

Kushner juga menanggapi kritik terkait keterlibatan negara-negara tertentu dalam proses rekonstruksi. Ia meminta para pengkritik untuk memberi waktu agar rencana tersebut dapat berjalan.

“Saya meminta semua orang untuk tenang selama 30 hari,” kata Kushner. “Tujuan kita di sini adalah perdamaian antara Israel dan rakyat Palestina. Semua orang ingin hidup damai. Semua orang ingin hidup dengan martabat.”

Rencana rekonstruksi Gaza ini masih menuai perdebatan, terutama terkait isu keamanan, legitimasi pemerintahan pascakonflik, serta peran aktor internasional. Namun, pemerintahan Trump memandang inisiatif tersebut sebagai peluang untuk mengakhiri siklus konflik dan mengubah Gaza secara fundamental dalam waktu relatif singkat.

Tombol Google News

Tags:

gaza perdamaian di Gaza Jared Kushner Israel Palestina Donald Trump Board of Peace